About

(please scroll down for english version)

“Tubuh Ketiga: yang Berada di Antara” adalah proyek seni yang tengah dilakukan kumpulan seniman (artist-collective) Teater Garasi, yang bertolak dari observasi dan kajian atas gagasan serta kenyataan “tubuh ketiga dan ruang ketiga” di Indonesia. Melalui serangkaian riset dan observasi lapangan yang sedang dan akan ditempuh di beberapa kota di Indonesia (Yogyakarta, Indramayu, Wonosari, Pati), proyek ini bermaksud menelusuri premis:

bahwa kebudayaan Indonesia selalu berada dalam situasi ‘antara’ (in between). Atau, selalu berada dalam keadaan perpindahan (state of transition). Perpindahan dari pre-kolonial ke masa kolonial, masa kolonial ke pasca-kolonial; dari kebudayaan agraris ke industrial, industrial ke post-industri; dari kebudayaan dan kosmologi desa ke kebudayaan dan kosmos kota; dari Orde Lama ke Orde Baru ke Masa Reformasi … Perpindahan, transisi, yang tak pernah genap; belum selesai satu fase perubahan, perubahan yang lain datang dan menuntut untuk segera beranjak.

Dengan kata lain, sejarah kebudayaan Indonesia adalah sejarah kebudayaan ‘di antara’. Kebudayaan yang terletak ‘di antara’ dua atau lebih ruang budaya: di antara yang tradisional dan modern, yang asli dan asing, yang dalam dan luar, yang dulu dan sekarang… Ia tidak pernah (lagi?) tinggal/terletak di dalam satu ruang kebudayaan tertentu, yang spesifik, yang dengan tegas dan tajam berbeda dengan kebudayaan tertentu yang lain. Ia tersusun dari percampuran (dan excess of) budaya-budaya yang berbeda. ‘Tubuh’nya terbangun dari lapisan-lapisan.

Berdasar kerangka di atas proyek ini bermaksud menelusuri dan menciptakan kembali ihwal kenyataan (tubuh dan kebudayaan) yang tercipta di dalam situasi antara (in between) dan di dalam keadaan perpindahan (state of transition). Ihwal kenyataan liminal –tubuh dan kebudayaan yang berada di antara yang dikenang dan yang diangankan, antara yang sudah  ditinggalkan atau ditolak dan yang ingin atau belum diraih. Ihwal kenyataan, identitas, dan tubuh hibrid yang tersusun dari lapis-lapis kebudayaan yang beragam. Lapis-lapis kebudayaan yang satu sama lain mungkin terus saling bersaing, saling mengenakan (apropriasi), bekerjasama… Lapis-lapis yang terus menerus mengubah serta membentuk kenyataan-kenyataan yang berada di antaranya.

Seniman-seniman yang terlibat (dalam urutan alfabet): Andy Seno Aji, Clink Sugiarto, Gunawan Maryanto, Hanny Herlina, Jompet Kuswidananto, Sri Qadariatin a.k.a Uung, Theodorus Christanto, Wangi Indriya, Yennu Ariendra dan Yudi Ahmad Tajudin

Output dari project ini (untuk tahun 201o)

1. “Java’s Machine: Third Realms”, karya Instalasi dan pertunjukan-dalam-video oleh Jompet Kuswidananto, berkolaborasi dengan Yudi Ahmad Tajudin. Akan dipamerkan di Para/Site Gallery, Hongkong, November, 2010.

2. “Tubuh Ketiga; yang Berada di Antara” (Third Body: The in Betweetn), karya pertunjukan teater-tari yang disutradarai oleh Yudi Ahmad Tajudin, berkolaborasi dengan seluruh seniman di atas. Akan dipentaskan pertama kali di Teater Salihara, Jakarta, 12-13 Oktober, 2010.

Diproduksi oleh: Teater Garasi, Co-producer: Festival Salihara 2010,

Didukung oleh: Hivos

Third Body: The In Between is a performing and visual art project by Teater Garasi, an artist-collective group based in Yogyakarta.The project is based on observations and studies on the idea and reality of the “third body and third space” in Indonesia. Through a series of researches and observations in some cities in Indonesia (Yogyakarta, Indramayu, Wonosari, Pati) this project intends to investigate the following premise:

Indonesian cultures are always in an “in-between situation” or perpetually in the state of transition. From pre-colonial to colonial, colonial to post-colonial, agrarian culture to industrial one, industrial to post-industrial, from rural culture and cosmology to the urban ones… Transition which is never completed, from an unfinished changing phase to another that demands hasty departure.

In a nutshell, the history of Indonesian culture is an “in-between” cultural history. A culture that is located between two or more cultural spaces: between the traditional and the modern, the original and the alien, the inside and the outside, the high brow and the low brow. It never (again?) stays and grows inside one cultural space that is specific and sharply different from another specific culture. It builds on a mix (and excess) of cultures. Its “body” is constructed from many different cultural layers.

Based on those premises this project determines to investigate and recreate corporeal and cultural realities which are created within the in-between situation and in the state of transition. In other words: reality, identity and hybrid body constructed from diverse cultural layers that are competing each other, appropriating each other but also collaborative. Layers which continuously change and shape realities in between.

Output of this project:

1. “Java’s Machine: Third Realms”, Installations and performances-in-video by Jompet Kuswidananto in collaboration with Yudi Ahmad Tajudin. Will be exhibited in Para/Site Gallery, Hongkong, November, 2010.

2. “Third Body: The in Betweetn”, a dance theatre performance directed by Yudi Ahmad Tajudin in collaboration with: Andy Seno Aji, Clink Sugiarto, Gunawan Maryanto, Hanny Herlina, Jompet Kuswidananto,  Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, Wangi Indriya, Yennu Ariendra. Will be premiered at Teater Salihara, Jakarta, 12th-13th of October 2010.

Co-produced by Festival Salihara 2010, supported by: Hivos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: