Tarling yang Sepi di Malam Hari

Malam, tepat tengah malam, 28 April 2010, kami menuju lokasi pertunjukan tarling. Yang main adalah kelompok tarling Duniawati. Penonton sudah sepi ketika kami datang, padahal pertunjukan tarling baru saja dimulai. Sebagaimana cerita yang kami kumpulkan sebelumnya, penonton tarling sangat sedikit. Sangat kontras dengan panggung yang besar dan gebyar dan musik yang sangat keras volumenya. Iya, panggung Duniawati sangat besar. Terbesar dari panggung kelompok-kelompok lainyang sudah kami saksikan sebelum-sebelumnya.

Penonton sudah bubar. Begitulah nasib tarling. Mereka main tepat tengah malam, jam 12, seusai pertunjukan organ dangdut tarling. Rasanya seperti sekadar mengisi panggung yang sudah kadung terpasang saja. Sambil menunggu pagi saat panggung harus dibongkar dan didirikan lagi di tempat lain. Benar-benar sepi, hanya beberapa orang yang terlihat menempati kursi undangan. Tapi yang menarik para pemain tarling terlihat tidak terganggu dengan minimnya jumlah penonton. Mereka terus bermain dengan lepas—seolah tak peduli berapa pun yang menontonnya. penonton yang tersisa pun ternyata sangat menikmati. Mereka berteriak, bersorak dan menyawer. Kami datang ketika cerita baru saja dimulai. Adegan pertama adalah adegan rumah bapak haji. Istrinya yang masih muda mencak-mencak minta cerai. Adegan rumah tangga itu berlangsung cukup sengit dan kasar. Dengan lancar pemeran perempuan marah-marah dan mengejek pak haji yang sudah tua. Ternyata perkawinan mereka hanya siasat bagi perempuan bekas pembantu itu untuk menguasai harta pak haji. Pak haji pun diusir dengan kejam. Penonton tampak terbawa. Mereka berteriak dengan sebal kepada perempuan kejam itu. Lantas disambung adegan lawak. 3 pelawak tua yang sangat matang, begitu komentar kami. mereka sangat menikmati permainan mereka. lawakan pun mengalir lancar dan berkelak-kelok tak terduga. Mereka juga menyanyi dan menari. Saweran datang kepada mereka. benar-benar lucu dan pahit. Aku tak mampu menahan tawa meski beberapa kosa kata aku tetap tak paham. Mereka saling meledek satu sama lain dengan cerdas. Mereka juga bermain wangsalan/pantun dengan hidup dan spontan.

Sehabis lawakan selesai kami pulang. jam sudah menunjuk pukul 3 pagi. Tepat saat kami pulang Duniawati, sang pemeran utama muncul di panggung dan melepas kepergian kami. Penonton yang sedikit itu semakin sedikit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: