Sandiwara di Siang Bolong

28 April 2010 siang hari kami menuju desa Tugu kecamatan Sliyeg Indramayu. Dari jauh panggung besar yang didominasi warna merah itu sudah terlihat. Kami segera berbaur dengan penonton. Aku segera menuju tempat yang teduh tapi tetap nyaman untuk menonton. Baru kali ini aku melihat semacam ketoprak yang main siang-siang. Aku menyebutnya semacam ketoprak karena memang serupa dengan ketoprak: sandiwara yang mengangkat kisah-kisah masa lalu dari babad dengan iringan gamelan. Orang Indramayu menyebut tontonan ini sebagai sandiwara. Bedanya dengan tarling adalah ceritanya. Tarling mengangkat cerita masa kini dengan iringan tarling (gitar dan suling). Tapi keduanya kini sama: sama-sama kerasukan organ tunggal. Dalam tarling maupun sandiwara selalu terselip organ tunggal dengan lagu-lagu dangdut dermayon yang lagi ngetop.

Aku tak tahu cerita apa yang tengah dibawakan. Kata Mbak Wangi kisah dari Babad Dermayu. Di panggung yang masih tampak begitu bagus dan terawat permainan berlangsung di bawah terik matahari. Seorang nelayan tua sedang menolong seorang putri yang tengah dikejar-kejar rombongan perampok. Ia sembunyikan putri di dalam keranjangnya. Lalu datanglah serombongan perampok bertanya kepadanya. Lelaki tua itu mengaku tak melihat seorang pun lewat di depannya. Percakapan terus berlangsung. Para perampok tak percaya dengan pengakuan orang tua tersebut. Lalu pelan-pelan terdengar suara si perempuan dari dalam keranjang ikannya. Perempuan itu tak tahan terlalu berada di sana karena gatal dan bau. Terbongkarlah persembunyiannya. Keduanya lalu diikat di bawah pohon dan hendak dibunuh. Tepat ketika pedang sudah terhunus datanglah serombongan satria menolong. Pertempuran tak terhindarkan. Sebagaimana bisa ditebak para perampok itu lari tunggang langgang. Rombongan satria yang dipimpin oleh Pangeran Derma itu pun pergi. Sang pangeran menari sendirian barulah kemudian pergi. Rupanya ini adalah pakem. Kata Mbak Wangi setiap tokoh mengawali adegan dengan monolog dan mengakhirinya dengan menari sesuai dengan karakter masing-masing: alusan atau gagahan. Mirip wayang wong. Kalu kostum-kostumnya sudah banyak berubah, imbuhnya. Sekarang sudah mirip dengan sinetron-sinetron laga di televisi. Mungkin terpengaruh.

Ternyata yang punya hajat siang itu masih terhitung saudara jauh Mbak Wangi. Maka kami pun dipersilahkan duduk di kursi undangan. Aku bertiga bersama Hanny Herlina dan Mbak Wangi lantas duduk bersama tuan rumah. Sementara teman-teman yang lain tetap berpencar dengan fokusnya masing-masing. Uung menyelusup ke rombongan pemain yang duduk-duduk di bawah panggung, Yudi naik ke panggung untuk mengambil gambar. Jompet, Andy dan Yennu berdiri persis di dekat para pemusik yang menempati panggung kecil di muka panggung utama.

Saweran juga mewarnai pertunjukan sandiwara ini. Saat pemain utama wanitanya keluar dan menyanyi naiklah beberapa orang untuk memberinya uang. Lagu yang dinyanyikannya adalah dangdut tarling. Ternyata di sebelah panggung ada pemain organ yang sudah bersiap. Aku tak melihatnya karena tidak bergabung dengan rombongan pemain gamelan. Saweran juga berlangsung kembali saat adegan taman di mana para pelawak muncul. Uung menyawer dan meminta lagu kiriman entok. Mbak Wangi juga menyawer karena pelawak itu masih terhitung saudaranya. Meski panas, jam menunjuk pukul 3 siang hari, lawakan-lawakannya tetap lucu dan menghibur. Pada saat yang bersamaan sunuatan berlangsung di teras tuan rumah. Fokus terpecah. Sebagian penonton mengerumuni si anak yang disunat sedang yang lain tetap menikmati pertunjukan. Kemudian sang pelawak pamit mundur dan gamelan bertalu mengiringi sunatan. Sunatan berakhir denga letusan petasan yang sambung menyambung di kebun belakang. Gamelan bertalu kembali dan pertunjukan dimulai.

Tepat jam empat pertunjukan ditutup meski cerita belum selesai. malam nanti mereka akan main lagi dengan membawakan cerita yang lain. Ceritanya masih rahasia, kata sang sutradara yang siang itu berperan sebagai pemain antagonis. Demikianlah kami pun meninggalkan desa Tugu di mana pertunjukan sandiwara itu berlangsung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: