Sejumlah Puisi dari Indramayu

Gunawan Maryanto

Perahu Cinta Ani

Malam ini Ani menyanyi lagi. Lirik cinta yang paling sedih karangan seorang penggembala bebek yang barusan patah hati. Lirik seharga lima ribu rupiah itu ditulis di atas selembar kertas bekas. Seorang pengarang lagu amatir langsung membelinya kemarin sore. Semalaman penuh ia memberi nada agar kesedihan itu tak terdengar lagi. Lalu Ani membelinya karena ia butuh sebuah lagu malam ini. Dua ratus ribu rupiah dan ia berhak menyanyikannya sampai mati.

Malam ini Ani menyanyi lagi. Sebuah panggung telah didirikan di atas selokan. Lampu-lampu telah dinyalakan—warna-warni seperti sebuah acara televisi. Ani telah berdandan manis sekali. Gaun pendek tanpa lengan sewarna benar dengan pipinya yang kemerahan. Dari sebuah organ suara kendang bertalu-talu suara suling meliuk-liuk di antara petikan gitar yang menirukan gamelan. Ani maju dan langsung meliukkan tubuhnya dihadang sepasang pemuda dengan segepok ribuan kumal di tangan. Panggung bergetar seketika seperti dada sang penggembala bebek yang menonton di kejauhan. Panggung pelan-pelan menjelma perahu cinta mengambang di atas selokan mampet yang bau tahi dan kenyataan.

Jogja, 2010



Sandiwara yang Tak Selesai

Di depan layar bergambar hutan belantara Iweng berkeluh-kesah. Ia mencari suaminya yang hilang. Suaranya datar dan besar seperti bongkahan-bongkahan batu yang datang dari masa lalu. Lalu ia menembang setelah segalanya tak tertahankan. Tembang di siang bolong yang mengundang penonton datang dan menghujaninya dengan lembaran-lembaran uang. Iweng, janda seorang kuwu itu, mendadak bercahaya. Lebih muda dan menggairahkan.

Godhong Semanggen digawe rumbah (Daun Semanggen dibikin rumbah)
Blesak gan bagen asal setia (Jelek tak apa asal setia)
Ning badan kula (Kepada saya)

Dan Tuhan menjatuhkan seorang pendekar di hadapannya. Pendekar perkasa yang diterbangkan angin puting beliung yang lahir dari telapak tangan seorang santri. Sampai di sini sandiwara terhenti. Jam sudah menunjuk pukul empat sore tepat. Semuanya harus diselesaikan. Mau tak mau. Tapi Iweng menolak untuk selesai. Ia terus menyanyi di kepala saya.

Godhong Semanggen neng tengah sawah (Daun Semanggen di tengah sawah)

Jogja, 2010



Jalanan Buruk Menuju Rumahmu

Jalanan buruk ini harus diterima, ia seperti wajah kita—penuh lobang dan genangan sisa hujan. Jalanan buruk ini membuatku berlama-lama di jalan sebelum akhirnya bisa menemuimu: tanpa make up dan baju dari Mangga Dua. Kau lebih cantik sesungguhnya dengan wajah pucat dan kaos seadanya itu. Aku tadi sempat tersesat beberapa kali. Ada yang mirip namamu juga di gang sebelah. Tapi bukan. Ia tak bisa menyanyi sama sekali. Ia baru pulang dari Korea. Tampak dari rumahnya yang berlapis keramik dengan tiang-tiang besar di teras. Ia juga berkeras memasang pagar meski tak ada yang mesti dipagari. Ia tak punya halaman. Ia hanya memagari dirinya sendiri dari entah.

Duduklah di kursi jangan ngelesot seperti abdi. Ini rumahmu. Yang kaubangun tiap malam dari suaramu. Ah, belum selesai, katamu malu-malu. Dinding masih telanjang dan lantai belum dikeramik. Tapi setidaknya kau punya rumah. Punya kamar mandi impian di dalam kamar tidurmu. Musim panen depan mungkin semuanya akan selesai. Mungkin kau akan merasa perlu memasang papan namamu di ujung kampung.

Jalanan buruk ini telah mengantarmu ke mana-mana. Ke panggung-panggung hajatan yang jatuh cinta pada suaramu. Ke tempat-tempat di mana uang berguguran seperti hujan. Meski hanya ribuan, ia akan membasahi tubuhmu.

Jogja, 2010



Kebahagiaan di Atas Selokan

Tami duduk di kursi plastik. Malam ini semuanya akan rampung katanya pada panggung. Besok ia akan menjual berkarung-karung padi di teras. Melunasi beberapa tagihan dan bersiap kembali ke Saudi. Ia tak boleh berlama-lama di sini. 5 tahun lagi ia harus menyewa hiburan lagi untuk pernikahan anaknya yang siang tadi telah mengucapkan kalimat syahadat.

Apakah kita pernah bertemu? Tanyanya kepadaku. Anda mirip teman masa kecil saya. Bukan. Saya datang dari jauh. Saya juga tak ada ketika Anda dulu mengucapkan kalimat syahadat dengan hiburan layar tancap. Saya bukan siapa-siapa Anda. Janda satu anak itu kembali bercakap-cakap dengan panggung. Namanya beberapa kali disebut oleh para penyanyi yang mengharap sawerannya. Ia memeluk anaknya. Menunggu saat yang tepat untuk naik ke atas panggung. Berjoget sebentar biar tampak bahagia dan menabur uang sebanyak-banyaknya biar tampak makmur.

Keong Racun berdentam dan penyanyi mungil berbaju hitam memaksaku naik panggung impian.

Eh ku takut sekali

Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Eh kau tak tahu malu

Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Aku bergoyang mencoba melupakan segalanya. Kesepian, kesedihan dan sebangsanya. Aku mencoba bahagia dengan beberapa lembar ribuan yang kuberikan kepadanya. Ia menyebut namaku berulang-ulang. Biasanya orang senang bila ada yang memanggil namanya. Tapi tidak. Aku ingin panggilan itu datang dari seseorang yang lain. Bukan dari sebuah panggung yang kaki-kakinya berkubang selokan.

Jogja, 2010



Pertarungan di Pinggir Selokan

Panggung muram di halaman itu tak menawarkan harapan. Kursi-kursi kosong, beberapa diisi anak-anak yang tak punya hiburan. Di luar kemiskinan bergerombol mencari musuh yang bisa dipukulinya—kemiskinan yang lain tentu saja. Mereka berkumpul sepanjang selokan yang gelap, mirip semak-semak yang dingin dan mengerikan. Tinggal menunggu waktu di mana peperangan akan dimulai. Lagu-lagu cinta akan mengiringi para hero ke medan laga. Semalam keributan sudah terjadi di kampung sebelah, kata seorang teman. Malam ini adalah kelanjutan yang dinantikan. Beban keseharian akan sejenak terlupakan. Tinggal pahlawan atau pecundang. Dan Keong Racun diputar lagi di panggung. Mempercepat degub jantung. Mempercepat pedang dilolos dari sarungnya. Aku pergi sebelum sesuatu akan terjadi.

Jogja, 2010



3 Pelawak Tua

Ketiga pelawak itu, betapa kenyang mereka dengan kepahitan. Panggung tarling hanya tinggal beberapa meter persegi, harus berbagi dengan penghuni baru yang lebih seksi yang datang silih berganti. Salah hitungan, aku salah hitungan, dendangnya membuka tawa malam itu. Ia menari dengan dingin namun penuh perasaan: perasaan sedingin malam yang sepi penonton. Ia sedang menikmati kesendiriannya. Hanya seorang lelaki tua maju memberinya beberapa lembar uang. Lalu sepi lagi. Ia lantas melipat malam dengan tukang kendang. Membicarakan susu isteri temannya yang besar dan penuh petaka. Penonton yang tinggal tak mampu menahan kegeliannya. Membayangkan susu besar yang menimpa wajah seorang bayi hingga mati. Seperti biasa, yang tengah digunjingkan mendengar semuanya. Yang luar biasa, temannya menangis mendengar susu isterinya digunjingkan. Ia tak marah seperti panggung yang sudah-sudah. Ia justru menangis dan mengulang cerita itu dengan pahit. Hasilnya adalah tawa yang tak tertahankan. Betapa pandai ia memainkan paradoks. Lantas ia balas temannya: ibumu hamil dulu baru melahirkanmu. Sang teman gantian menangis tak terima dituduh sebagai anak jadah. Sekali lagi, hanya permainan logika yang cantik. Semua perempuan hamil duluan baru kemudian melahirkan. Bukan melahirkan baru hamil belakangan. Tawa pecah lagi. Lawakan mereka lahir dan terus mengalir seperti air. Hanya mereka yang sudah lama berada di sana yang bisa melakukannya. Datang seorang lagi. Malam jadi begitu penuh. Hanya cukup untuk mereka bertiga. Pelan-pelan aku beringsut pergi. Tak mau mengganggu mereka lagi.

Jogja, 2010



The Queen of Pantura

Wong lanang lara atine (Seorang lelaki yang sakit hati)
Melaku neng tengahing wengi (Berjalan di tengah malam buta)
Gerimis lan melu nangisi (Gerimis pun ikut menangisinya)
Uripe wis kerasa mati (Hidupnya terasa sudah mati)

Dewi Kirana, 30 tahun, menyapa penggemarnya yang berkerumun. Sebuah kebetulan, mendadak hujan turun. Seperti menegaskan bahwa lagu itu nyata hadir malam itu. Para lelaki yang merasa terwakili menggoyangkan dadanya. Ada juga yang mengeras di dada saya. The queen of Pantura datang pada mereka malam ini bersama the best of music yang paling eksis Puspa Kirana. Bagai Dewi Padi yang dirindukan para petani—mereka yang datang dari abad limabelas. Keributan sempat terjadi di pinggir panggung antar remaja tanggung. Tapi hiburan terus berlangsung.

Empat anak Sang Dewi duduk di belakang panggung berjajar seperti pagar ayu, menyaksikan ibunya bertarung. Tak lama perahu yang mereka tumpangi malam itu akan tenggelam. Beberapa musim panen lagi mungkin. Akan segera tiba perahu yang lain dengan dewi yang lain—yang lebih muda yang lebih menggoda.

Jerite sajeroning ati (Ia menjerit dalam hati)
Banyumata bli bisa mili (Airmata tak bisa keluar lagi)
Larane disimpen neng dada (Sakitnya disimpan di dada)
Ngakoni sabar lan nerima (Mengakuinya dan sabar menerima)

Tak ada kabar gembira sebenarnya. Tapi mereka melagukannya dengan gembira. Hasilnya adalah kesedihan yang asing—entah punya siapa. Yang jelas bukan milik mereka malam itu. Sang Dewi terus bergoyang. Tatoo di punggungnya berkilat oleh cahaya bulan. Pemuda disamping saya memanjat ketinggian. Ia melemparkan uang ribuan dan menjerit kesenangan. Seandainya ia jatuh, ia jatuh dalam kemenangan.

Jogja, 2010



Melingkari Dewi Sri

Siang terlalu panas untuk sebuah kegembiraan. Orang-orang sibuk mencari angin. Mengipaskan segalanya. Angin adalah hiburan yang paling segar dari pada dangdut tarling yang hingar. Empunya hajat berkali-kali mengusap wajah. Keringat tumbuh seperti padi. Matanya tertuju ke gapura imitasi dari besi. Menghitung para penyumbang yang datang. Hari ini saatnya padiku kembali, jika kurang aku akan mendatangi rumah mereka. Di atas panggung para penyanyi berkali-kali menyebut namanya.

Siang terlalu panas untuk menikmati tubuhmu. Orang-orang jadi malas menghampirimu. Menyanyilah sendirian. Nikmatilah lagumu sendirian. Aku terlanjur mencintaimu. Hingga membuat hilang kesadaranku. Hamil muda karena kata-kata manismu. Menyesal diri tiada berguna bagiku. Bagiku…

Air mengalir pelan di bawah panggungmu menuju sawah. Membawa nasib siapapun yang hadir siang itu. Mereka berada di lingkaran yang sama. Melingkari Dewi Sri yang dijaga Nini Towong. Dewi Sri yang makin lama makin miskin dan suatu hari memutuskan menjadi TKI.

Jogja, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: