Dewi Kirana; The Queen of Pantura

Akhirnya kami nonton juga pertunjukan Dewi Kirana bersama kelompoknya Puspa Kirana, 27 April 2010, di Susukan Cirebon.  Segera muncul beberapa perbedaan dengan pertunjukan-pertunjukan organ yang kami saksikan sebelumnya: yang punya hajat adalah orang berada/kaya, panggung lebih besar dan terasa mahal, pertunjukan lebih tertata/terasa profesional, keamanannya bukan hanya hansip tapi juga beberapa personil polisi, dan penontonnya berjubel.

Dewi Kirana konon adalah artis paling laris dan mahal di Indramayu selain Hj. Aas Rolani. Menyewa Puspa Kirana setidaknya tuan hajat harus menyiapkan 10 juta rupiah untuk artis dan panggung (termasuk lampu dan sound). Sebagai sebuah kelompok yang kuat, Puspa Kirana mampu mengikat para pemusik dan penyanyinya. Bukan cabutan sebagaimana kelompok-kelompok yang kami saksikan sebelumnya. Wajah para pemusik dan penyanyinya terasa akrab bagi saya karena telah berungkali melihat video-video pertunjukan Puspa Kirana. Karena tetap para pemusik memiliki waktu untuk terus mempertajam permainannya, bukan hanya memainkan aransemen standart sebagaimana Kesod Group, Indra Cs, Maharani atau pun Een Nada. Bahkan mereka punya lagu Laskar Puspa Kirana yang dimainkan untuk membuka pertunjukan. Alat musik yang dimain bertambah satu lagi: Saxophone. Meski cara memainkannya seperti suling ata hanya menggantikan suling di beberapa tempat, kehadiran saxophone terasa memberi warna tersendiri.

Selain MC dan Penyanyi, Puspa Kirana mempunyai badut atau pelawak yang turut tampil menyegarkan suasana. Konon Aas maupun Ekawati juga memakai pelawak untuk meramaikan pertunjukannya. Artinya hanya kelompok-kelompok besar yang menambahkan pelawak dalam pertunjukan organ tarling dangdutnya. Kelompok-kelompok bertarif 10 juta rupiah untuk satu kali pertunjukannya.

Kami datang persis saat pertunjukan dimulai dengan permainan instrumentalia. Tanpa penyanyi. Hanya suara MC yang sesekali terdengar menyambut tamu undangan. Kami berhasil merapat ke panggung, duduk di kursi-kursi kosong yang tepat berada di depan panggung. Entah kenopo kursi-kursi tersebut banyak yang kosong sementara kursi-kursi di bagian lain sudah penuh terisi. Di luar pagar juga tampak banyak penonton yang berdiri. Sialnya kami duduk tepat di depan speaker. Musik mereka hampir-hampir tak bisa dinikmati saking kerasnya. Di depan panggung terpampang tulisan besar “Puspa Kirana The Queen of Pantura” lengkap dengan nomor telepon untuk menanggap dan tulisan www.dewikirana.com. Tapi tak berapa lama kami harus menyingkir dari kursi karena ternyata kursi-kursi itu disediakan untuk aparat keamanan dan polisi. Saya pun menyelinap ke samping panggung, memilih posisi berdiri saja supaya bisa bebas bergerak.

Setelah musik selesai salah seorang polisi naik ke atas panggung. Dia mengumumkan bahwa pertunjukan malam itu melarang penyawer untuk naik dan bergoyang di panggung. Penonton hanya boleh meminta lagu dan menyawer dari bawah panggung demi ketertiban. Pak polisi juga memperingatkan dengan keras kepada pemuda-pemuda yang suka berjoget agar tidak membuat keributan. Barang siapa berbuat onar polisi tak segan-segan untuk menangkap dan memenjarakan mereka. Sambil memberi peringatan matanya melirik ke arah para pemuda yang banyak berdiri di samping panggung. Terakhir, setelah memberi pengarahan dan peringatan dengan panjang lebar, ia mengumumkan pendaftaran bagi para pemuda lulusan SMA dan S1 untuk mengikuti pendidikan kepolisian. Setelah pak polisi turun pertunjukanmu dimulai kembali. MC, yang tak lain adalah Mamat Surachmat suami dari Dewi Kirana menyanyikan sebuah lagu ciptaannya Salah Ngenyot. Si Bodong sang pelawak menari-nari dengan lincah mengiringi penampilan Mamat.

Penyanyi pertama yang dipanggil adalah seorang penyanyi laki-laki. berpenampilan laksana rocker: gondrong, berbaju ala army, dan penuh dengan rantai. Make up wajahnya mengingatkan pada make up personil band Kuburan. Lagu pertamanya adalah lagu Ost. Sinetron Cinta Fitri. Penampilannya cukup atraktif, berlarian hingga sudut-sudut panggung. Bahkan ia turun dengan cepat ke arah penonton. Berlari memasuki kerumuan penonton. Si bodong tak ketinggalan. Ia turut pula turun untuk mengejar sang penyanyi. Lalu setelah cukup lama menggila di kerumunan penonton si Bodong menggendong sang rocker balik ke atas panggung.

Penyanyi berikutnya ada sepasang gadis cantik. Mereka menyanyi secara duet. Penampilan juga tak kalah atraktif. Goyangannya berani meski kualitas vokalnya pas-pasan. Dan Dewi Kirana tampil di puncaknya. Membawakan beberapa lagu andalannya: Wong Lanang Lara Atine, Braja Tumama, Mujaer Mundur dan sebagainya. Tangga dramatik sudah ditata sedemikian rupa hingga penampilan Dewi Kirana adalah klimaksnya. Penyanyi lain tak ada yang melebihi kecantikan Dewi Kirana. Kualitas vokalnya juga berada di bawah Dewi Kirana. Mungkin memang disengaja seperti itu. Tapi yang terasa benar adalah Dewi Kirana adalah aset utama kelompok tersebut. Tanpa Dewi Kirana mungkin pertunjukan malam itu akan menjadi pertunjukan yang biasa saja.

Meski telah dilarang naik ke panggung, sesekali tetap saja ada penonton yang naik ke panggung. Selain utusan dari tuan rumah yang naik untuk meminta lagu dan menyapaikan sawerannya, beberapa pemuda dengan berani—mungkin karena mabuk—naik ke panggung. Tapi mereka tak bergoyang, hanya menyampaikan saweran dan permintaan lagu. Beberapa pemuda naik ke samping panggung untuk menyampaikan saweran dan bak seorang hero ia mengangkat kedua tangannya seperti habis memenangkan sebuah pertempuran.

Sempat terjadi juga keributan di samping panggung. Saya tak sempat melihatnya karena kejadiannya persis setelah saya, Yudi dan beberapa teman lain berpindah posisi ke depan panggung. Polisi dan keamanan segera berlari untuk mengatasi keadaan. MC pun dengan cepat menenangkan suasana denga suara khasnya: tidak terjadi apa-apa. Tidak apa-apa! Dan pertunjukan pun terus berlanjut.

Hujan sempat turun di tengah pertunjukan. Tapi penonton bergeming dari tempatnya. Beberapa berteduh tapi tetap menikmati pertunjukan. Setelah Dewi Kirana menyanyikan 3 buah lagu kami pulang. Sebenarnya ingin juga bertahan sampai selesai karena sehabis pertunjukan dangdut tarling, Puspa Kirana akan melajutkannya dengan pertunjukan sandiwara sampai jam 3 pagi. Tapi tak apa. Besok kami juga akan menyaksikan sandiwara dan tarling di lain tempat. Terus terang saja sebagian besar dari kami sudah kelelahan karena sebelum menonton Dewi Kirana kami sempat menghadiri sebuah acara di Jatiwangi Majalengka.

Comments
One Response to “Dewi Kirana; The Queen of Pantura”
  1. dewi kirana says:

    tanks ya dah meliput puspa kirana. moga beranfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: