Godhong Semanggen di Kota Tua

Tanggal 26 April 2010 kami berangkat menuju Pecuk yang terletak di kecamatan Sindang Indramayu. Kawan kami, Rasmadi, mentas lagi siang itu. Setelah bertanya ke sana-ke mari kami berhasil menemukan tempat hajatan di mana pertunjukan organ tarling dangdut tersebut mentas. Ternyata Rasmadi tak main bareng dengan Indra Cs seperti malam sebelumnya. Ia main bersama kelompok Maharani. Di sini kami mendapati lagi kenyataan bahwa panggung organ dangdut itu dibangun di atas selokan. Di belakang panggung kami bertemu dengan mas MC dari Indra Cs semalam. Tapi ia tak main. Ia justru sibuk dengan perangkat pemancar radio mininya. Rupanya pertunjukan itu disiarkan secara langsung melalui sebuah stasiun radio.

Cuaca yang panas membuat pertunjukan itu tak terlalu meriah. Penonton kebanyakan hanya duduk di kejauhan, berteduh di bawah pohon maupun emperan rumah. posisi panggung tampaknya tak terlalu nyaman untuk dilihat. Dari kursi-kursi yang ditata di halaman rumah empunya hajat panggung tersebut terasa begitu berjarak—seperti sebuah pertunjukan yang berlangsung di kejauhan. Untunglah panggung tersebut cukup tinggi sehingga penampilan para penyanyi tetap bisa terlihat. Jalan menuju panggung juga terlalu sempit, berupa jembatan yang terbuat dari bambu. Karenanya tak terlalu banyak penyawer yang naik ke atas panggung. Hanya beberapa yang kami lihat naik untuk bergoyang sejenak dan memberi sawer kepada penari. Meski demikian para pemusik dan penyanyi tetap tampil dengan atraktif. Dibandingkan dengan penyanyi-penyanyi dari Indra Cs penyanyi-penyanyi yang tampil dari Maharani sebenarnya memiliki kualitas suara dan penampilan yang lebih apik. Mungkin malam harinya pertunjukan mereka akan lebih meriah.

Saya sendiri menonton dari kejauhan sambil melihat lalu lalang para tamu undangan. Setiap yang datang selalu membawa karung beras. Di tempat parkir beberapa pemuda membantu menurunkan karung-karung tersebut dari boncengan sepeda atau sepeda motor. Lalu mereka mengusung masuk ke dalam mengiringi si penyumbang. Setelah ditimbang oleh seorang petugas, juga dicatat, penyumbang segera menikmati hidangan prasmanan sambil menyaksikan pertunjukan organ dangdut tersebut.

Selepas jam 3 siang pertunjukan pun selesai. Malamnya mereka akan tampil kembali. Kini gantian sang MC yang juga penyiar radio beraksi. Ia menyetel sebuah musik dan menyanyi. Sewaktu berjalan pulang saya sempat mendengarkannya dari sebuah radio di pinggir jalan. Kami sempat bertemu dengan Rasmadi untuk membuat janji workshop gitar tarling. Yennu Ariendra, penata musik dari proyek pertunjukan Tubuh Ketiga, tertarik untuk belajar dasar-dasar gitaran tarling.

Malamnya kami menuju ke Bongas. Bahrul Ulum alias Bahrun, salah seorang aktor Teater Garasi yang tinggal di Indramayu, memberi informasi bahwa ada pertunjukan organ tarling dangdut di sana. Lokasinya terbilang cukup jauh dari Sliyeg di mana kami menginap. Mungkin sekitar 2 jam perjalanan. Tapi nyatanya lebih. Jalan yang kami lalui, selepas dari jalan raya terbilang sangat buruk. Mobil harus meluncur dengan pelan dan hati-hati dalam kegelapan malam.

Sampailah juga kami di sana. Bahrun juga datang berboncengan dengan temannya. Letak panggung berada di halaman empunya hajat. Kami agak kesulitan masuk karena penonton menumpuk di pintu masuk. Saya berhasil menyelinap masuk ke dalam. aneh, kursi-kursi di depan panggung tak banyak yang menempati. Hanya beberapa anggota keamanan dan perangkat desa saja yang duduk di sana. bersama sejumlah anak kecil. penonton lain menonton dari kejauhan. Juga dari belakang panggung. Dari belakang pangung itulah beberapa pemuda naik turun untuk bergoyang dan memeberi sawer.

Kelompok yang tampil malam itu bernama Een Nada. Cukup minimalis penampilannya: hanya pemain organ dan satu peniup suling plus 4 penyanyi. Saya menonton beberapa lagu. Yudi memotret dari kejauhan. Tidak tahu kenapa, suasana terasa kurang nyaman. Tepatnya kurang aman. Panggung tak terlalu terang lampunya. Sementara di luar, di pinggir jalan banyak gerombolan anak-anak muda. Semalam terjadi tawuran saat pertunjukan, kata Bahrun. Mungkin itu pula yang membuat suasana terasa agak mencekam. Hanya beberapa lagu sebuah sms dari Yudi masuk. Setengah jam lagi kita pulang? tanyanya. Saya pun beringsut keluar. Uung yang juga berhasil masuk ke dalam dan duduk di kursi telah terlebih dulu keluar dari halaman rumah hajat.

Di luar kami berkumpul di pinggir jalan. Suasana tambah mencekam. Di pinggir selokan dan jalan anak-anak muda semakin banyak yang berdatangan. Kami memutuskan untuk pulang. Tapi kami tak langsung pulang ke rumah Mbak Wangi. Bahrun mengajak kami nongkrong dulu di alun-alun Haurgeulis. Ia bersama temannya berjalan terlebih dahulu di depan. Sedangkan mobil kami mengikuti dari belakang. Jalan yang kami lalui semakin memburuk dan gelap.

Sampailah juga kami di alun-alun Haurgeulis. Beberapa warung di tepi pagar alun-alun masih buka. Warung kopi dan warung buah. Kami nongkrong sambil minum kopi. suasana sepi sekali. Di radio kami mendengar dangdut tarling diputar. Godhong Semanggen mengalun di antara keremangan malam. Beberapa di antara kami berjalan melihat-lihat kota itu. Tampak seperti sebuah kota tua yang mati ditinggal penghuninya.

Godhong Semanggen digawe rumbah / Godhong Semanggen dibikin rumbah

Blesak gan bagen asal setia ning badan kula/ Jelek tak apa asal setia kepada saya

Comments
One Response to “Godhong Semanggen di Kota Tua”
  1. tubuh ketiga says:

    Ihiiir…!!

    The best of music yang exist di dalam era globalisasi!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: