Kebahagiaan di Atas Selokan Mampet

Malam pertama, 25 April 2010, kami menuju Desa Lanjan. Rasmadi, gitaris tarling yang sempat kami temui pada riset terdahulu, tengah manggung di sana. Sejak siang sebenarnya ia sudah main di sana begitu sms yang diterima Yudi. Malamnya kami memutuskan untuk berangkat ke sana karena belum ada jadwal pertunjukan dangdut tarling lain yang kami dapatkan di hari pertama kedatangan kami kembali ke Indramayu tersebut. Sebenarnya siang saat kami masih istirahat lantaran kelelahan menempuh perjalanan darat Jogja-Indramayu Uung sempat mengikuti rombongan Singa Depok yang melintas di jalan dekat Sanggar Mulya Bhakti di mana kami menginap. Ia mengikuti rombongan tersebut sambil mengambil beberapa gambar. Tapi karena rombongan tak juga sampai ke tempat hajatan Uung memutuskan untuk balik ke sanggar, di samping ia juga belum bersiap untuk menonton karena baru bangun tidur. Ia sempat melihat suami penyanyi Ekawati dalam rombongan tersebut, mengikuti rombongan dengan becak. Ternyata benar, Kelompok Ekawati tengah tampil siang itu. Tapi sudah terlambat ketika kami akan berangkat ke sana, suami Eka memberi kabar bahwa pertunjukan sudah selesai.

Sambil menunggu malam tiba kami sempat ngobrol dengan Mas Wregul, salah seorang penari Indramayu lulusan ISI Jogja. Kami mendapat beberapa informasi mengenai dangdut tarling dari dia. Tidak ada informasi yang benar-benar baru. Dari Mas Wregul kami mendapatkan penegasan bahwa kelompok dangdut tarling benar-benar menjamur di Indramayu. Satu desa bisa memiliki 10 kelompok katanya. Wregul menyarankan kami untuk bertemu Pak Asep, Kabid Kesenian Indramayu untuk mendapatkan data pasti tentang jumlah kelompok organ tarling dandut tersebut. Cerita Wregul yang menarik adalah tentang para penulis lagu tarling dangdut. Ia pernah menemui seorang penggembala bebek yang menulis banyak lagu tarling dangdut. Lalu menjualnya kepada penulis lagu yang sudah terkenal. Satu lagu dihargai 5000 rupiah. Biasanya ia menjual sekaligus 100 lagu sehingga mendapatkan uang cukup banyak. Penulis-penulis lagu tarling dangdut menurut Wregul memungut ide dari kenyataan yang berlangsung di sekitarnya. Misal Usin Indra yang mencipta lagu Kucing Garong. Idenya didapatkan waktu dia sering mangkal di diskotik dan bertemu dengan para lelaki yang kelakuannya mirip kucing garong alias kucing pemangsa.

Sebelum Maghrib kami berangkat menuju tempat pertunjukan Rasmadi yakni di Desa Lanjan yang masuk ke wilayah kecamatan Lohbener. Sebagaimana yang kami rasakan dalam perjalanan terdahulu kami menempuh berkilo-kilo meter jalanan yang rusak berat. Tidak terbayang jika hujan turun, pasti jalan-jalan tersebut semakin tak nyaman untuk dilewati. Setelah bertanya ke sana kemari kami berhasil menemukan lokasi pertunjukan tersebut. Rasmadi menyambut kami dan mengajak masuk untuk berkenalan dengan personil-personil dari Indra Cs, grup tarling dangdut yang malam itu tampil. Satu hal yang langsung menyentak beberapa di antara kami adalah: panggung yang didirikan di atas selokan mampet yang berbau busuk. Panggung itu kecil saja tapi terasa ditata dengan apik. Pembagian ruangnya sangat efektif sehingga meski sempit panggung tersebut tetap terasa nyaman. Beberapa di antara kami sibuk mengamati kontruksi panggung dan keadaan sekitar. Saya dan Uung masuk ke dalam rumah empunya hajat yang dijadikan ruang transit dan istirahat pemain dangdut.

Kami masuk dan berkenalan dengan mereka. 2 orang penyanyi sedang merias wajah. Para pemusik beristirahat sambil bercanda. Seseorang lelaki yang kemudian kami tahu adalah MC dari pertunjukan tersebut sedang sibuk menulis-nulis sesuatu di buku tulisnya. Tak banyak yang bisa kami percakapkan karena ruangan yang begitu sempit sementara banyak orang berlalu lalang. Kami hanya ngobrol sekadarnya. Tak lama kemudian makanan datang dan mereka meminta kami untuk ikut makan bareng. Dari obrolan patah-patah di sesela mereka mempersiapkan diri kami tahu bahwa Indra Cs adalah kelompok yang masih kecil. Mereka belum memiliki album sendiri dan beberapa personil mereka tak tetap. Termasuk Rasmadi, ia adalah gitaris cabutan, bukan personil dari Indra Cs. Penyanyi-penyanyi pun demikian, bukan anggota dari Indra Cs. Meski demikian, menurut tuturan salah seorang personilnya, musim panen tahun ini Indra Cs kebanjiran banyak tanggapan. “Sebulan ke depan kami main hampir tiap malam,” kata seorang personil yang berkalung rantai emas.

Karena tak mau mengganggu persiapan mereka kami keluar untuk bertemu dengan teman-teman yang lain. Berkarung-karung beras tampak menumpuk di salah satu sudut, persis berdampingan dengan pelaminan pengantin rasulan. Menurut Mbak Wangi berkarung-karung beras itu memang tidak disimpan di dalam rumah bukan karena hendak dipamerkan tetapi memang karena sehabis hajatan akan langsung dicairkan menjadi uang alias jadi uang. Di luar tak terlalu banyak orang. Katanya ada 2 panggung hajatan lain di desa yang sama. karenanya orang-orang pun terbagi ke tiga hajatan. Akhirnya saya menghampiri seorang kakek-kakek yang menurut pengakuannya adalah kerabat dari empunya hajat. Sedangkan Uung dan beberapa teman lain berkenalan dengan Mbak Tami yang punya hajat malam itu. Rupanya perayaan malam itu dalam rangka rasulan dari anak Mbak Tami. Rasulan adalah upacara bagi anak perempuan berusia kurang dari delapan tahun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di depan tamu undangan. Pembacaan dua kalimat syahadat dituntun oleh seorang ustadz, kalau berhalangan hadir biasanya diwakilkan lebe setempat.

Sekarang hiburannya dangdutan, kata kakek-kakek yang saya temui. Karena murah, lanjutnya. Kalau nanggap wayang atau sandiwara sangat mahal. Dari kakek tersebut saya jadi tahu tarif dari Indra Cs, yakni 5 juta rupiah. Harga tersebut sudah mencakup keseluruhan keperluan hajatan dari panggung, sound, dekorasi, tenda, kursi, rias yang punya hajat sampai alat-alat untuk memasak di dapur. Cukup murah jika dibandingkan untuk menanggap satu kelompok sandiwara yang bertarif 7 juta yang hanya mencakup pertunjukan, panggung dan sound saja. Alasan murah rupanya cukup menjadi alasan utama dari pemilihan bentuk hiburan. Mbak Tami misalnya, waktu dia rasulan dulu orang tuanya menanggap sorot atau layar tancap. Yang penting ada hiburan yang bisa dinikmati bersama dengan para tamu karena mereka semua sudah datang menyumbang, kata Kakek. Kalau boleh memilih ia sebenarnya ingin hiburan berupa sandiwara atau wayang kulit. Dan apakah kakek nanti akan menonton dangdut tarling? Tanya saya. Tidak, katanya, sebentar lagi saya pulang.

Berdasar cerita Uung Mbak Tami adalah seorang janda. Ia bekerja di Saudi menjadi pembantu rumah tangga. Dia pulang khusus untuk membuat upacara rasulan buat anaknya. Sehabis itu ia akan berangkat lagi ke sana selama 5 tahun. Lalu kelak pulang lagi untuk menikahkan anaknya tersebut. Saya jadi teringat lirik lagu tarling Jeritan TKW di mana sang ibu berangkat kerja ke Saudi demi membiayai anak kesayangannya.

Jam 9 tepat musik di panggung mulai berbunyi. Hanya instrumen saja. Talu dalam bahasa Jawanya, untuk mengundang penonton datang. Lampu menyala warna-warni. Cukup dinamik. Balon-balon air turun dari atas panggung. Menjadikan panggung sederhana itu jadi tampak begitu indah. Saya melihat sekeliling. Tak banyak orang yang duduk di kursi. Hanya beberapa kerabat yang sejak kami datang tadi sudah ada di sana. Beberapa pemuda mulai tampak bergerombol jauh di belakang panggung, di seberang selokan. Mereka hanya duduk bergerombol saja. kemudian setelah semuanya tampak siap MC pun naik ke panggung. Ia langsung menuju bagian belakang panggung dan membawakan acara dari sana. Tak terlalu jelas apa yang dia ucapkan karena sound yang tak sempurna dan musik pembukaan yang begitu keras dan menggelora. Tapi kurang lebih ia menyambut para tetamu yang hadir. Kalimat yang jelas tertangkap dan juga diucapkan secara berulang adalah “The best of music yang paling eksis Indra Cs…”

Sebagaimana acara formal kebanyakan MC memberi kesempatan kepada tuan rumah untuk memberikan sambutan. Juga memberi ruang dan waktu kepada pejabat desa untuk memberi sambutan. Ia memanggil yang bersangkutan. Tapi tak satupun orang yang dipanggil maju ke atas panggung. Ia memanggil 3 kali untuk masing-masing nama. Karena tak ada yang maju maka sambutan diisi atau digantikan dengan alunan musik. Setelah rangkaian acara formal ditempuh, dengan cukup kocak MC memanggil dirinya sendiri, “Kini sambutlah pembawa acara malam ini, Cah bangkir sing paling blesak dhewek!” (Anak dari Bangkir yang paling jelek sendiri). Maka ia pun menampakkan dirinya dan langsung menyanyikan sebuah lagu. Lagu dangdut biasa, bukan dangdut tarling. Di tengah-tengah lagu para penyanyi pun beriringan naik ke panggung. Ada 4 penyanyi yang naik ke atas panggung dan langsung menghilang di balik panggung. Setelah selesai MC menyanyi dia mulai memanggil para penyanyi untuk tampil. Satu penyanyi mendapat jatah 2 buah lagu dalam satu putaran. Ani tampil untuk pertama kalinya. Ia memang tampak paling cantik di antara penyanyi lainnya. Ia menggunakan busana minim berwarna merah muda. Membawakan lagu ciptaan Abunawas Bete yang dinyanyikan oleh Manis Manja. Penampilannya cukup menyegarkan dan atraktif. Ia bergoyang dengan penuh tenaga dan mampu menyedot perhatian.

Aku butuh perhatian
tapi tak kau hiraukan
Aku butuh kasih sayang
tapi tak kau berikan

Aku mau dimanja-manja (manja-manja)
tapi kamu cuek-cuek aja

Aku BeTe sama kamu
Aku sebel sama kamu
Aku keki sama kamu
Aku BeTe.. BeTe.. BeTe!!

Aku BeTe dicuekin
Aku sebel dibiarin
Aku keki dianggurin
Aku BeTe.. BeTe.. BeTe!!
Acgh… BeTe!!

Sebagimana sempat diutarakan oleh MC sebelumnya di ruang rias, biasanya mereka memang memulai dengan lagu-lagu dangdut nasional terlebih dahulu, baru kemudian nanti disambung dengan dangdut tarling dalam bahasa dermayon. Di tengah-tengah Ani menyanyi tiba-tiba dari belakang muncul dua orang pemuda langsung turut bergoyang dan menyawer. Mungkin mereka adalah bagian dari pemuda-pemuda yang tadi tampak bergerombol di seberang selokan. Salah seorang yang berperawakan gempal bergoyang dan menyawer uang ribuan sambil coba memegang atau menyentuh tubuh penyanyi. Tapi Ani menghindar dengan pintar. Ia memilih bergoyang bersama pemusik. Kadang ke Rasmadi yang memegang gitar, atau ke mas-mas yang berkalung emas di pojokan yang menabuh simbal.

Lagu-lagu terus mengalir. Pemain suling cukup menarik perhatian kami. pertama karena adalah perempuan. Kedua ia tengah sakit gigi. Setiap kali selesai lagu ia memegang-megang pipinya yang bengkak. Pada giliran penyanyi ketiga atau lagu ke lima, saya dan Theo naik ke panggung untuk menyawer. Penyanyi mungil berpakaian hitam-hitam itu menyanyikan lagu Keong Racun karya Buy Akur yang dipopulerkan oleh Lissa.

Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan

Kami bergoyang bersama dengan dua orang pemuda dari Lanjan. Selesai satu lagi si penyanyi bertanya kepada kami lagu apa yang kami minta. Kami minta Mujaer Mundur dari Dewi Kirana. Dan Mujaer Mundur pun dinyanyikannya. Kemudian kami pun turun panggung setelah lagu tersebut selesai. penyanyi selanjutnya tampil. Kini giliran Mbak Tami naik ke panggung untuk menyawer.

Satu lagu kemudian kami berpamitan kepada Mbak Tami untuk pulang. sampai di tempat parkir Mas MC berlari menyusul kami. Tampaknya ia khawatir terjadi sesuatu dengan kami karena di lokasi kami memarkir mobil ada banyak pemuda bergerombol. Kemudian kami pun pulang. Hari pertama bersama Indra Cs yang manggung di atas selokan. Dan ternyata di hari-hari berikutnya, panggung di atas selokan bukan hanya milik Mbak Tami dan Indra Cs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: