Memaknai Bulan

oleh SUPALI KASIM

Di antara duabelas bulan dalam setahun, ada bulan-bulan tertentu dalam kalender Cerbon-Dermayu yang dimaknai secara khusus. Ada korelasi antara waktu, peristiwa dan pemaknaan. Masyarakat seperti mengikatnya dalam bentuk tradisi dan budaya, bertahun-tahun, turun-temurun. Pemaknaan secara sosio-kultur dengan menganggap sebagai penanda berkah terjadi pada bulan Sura (Muharam), Sapar (Shafar), Mulud (Rabiul Awal), Rejep/Rajab (Sya’ban), dan Puasa (Ramadhan). Sebaliknya pada bulan Kapit (Dzulaqa’dah) ditandai sebagai bulan buruk atau bala yang harus dimaknai sebagai kewaspadaan.

Pemaknaan terhadap bulan-bulan tertentu berkorelasi dengan momentum penting dalam perspektif kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon-Indramayu. Kelahiran bayi, misalnya, yang dimaknai sebagai berkah dan upacara slametan memiliki nuansa yang berbeda sesuai bulan-bulan tertentu tersebut. Begitu pula momentum lainnya. Tradisi mengirim bubur ke tetangga sekeliling akan dilakukan pada bulan Sura, atau lazim disebut bubur Sura. Berbagi kue cimplo (apem) akan dilakukan antartetangga saat masuk pada bulan Sapar. Bulan Mulud atau Rejep berupa nasi kuning, sedangkan pada bulan Kapit berkirim kue penyon.

Akan halnya bulan Puasa, bulan ini menempati strata tertinggi dalam pemaknaan khusus oleh masyarakat. Ada kenaikan atau munggah, yang kemudian disebut secara kultural sebagai munggahan sesaat memasuki bulan Puasa. Untuk bisa mencapai kenaikan tersebut, dimaknai pula dengan tradisi bebersih (membersihkan). Yang terlihat kemudian, ada budaya bebersih dan berbagi. Bebersih rumah, makam, dan badan hingga mandi keramas sebagai simbol jiwa dan raga yang bersih untuk melangkah ke bulan suci. Ada upaya adaptasi, juga penghormatan yang tinggi. Berbagi makanan ke tetangga sekitar juga dilakukan. Bahkan ada juga yang mengundang tahlilan, lalu diakhiri dengan makan bersama.

Ibadah puasa yang diperintah agama diiringi dengan peristiwa budaya. Perintah untuk berpuasa (shaum) dalam agama Islam pada bulan Ramadhan, memiliki nuansa budaya tersendiri. Sebagai wilayah kultural Cirebon dengan pengaruh kharisma Sunan Gunungjati, masyarakat menempatkan Ramadhan pada posisi yang penting.
Ramadhan berkonotasi dengan kesucian, oleh karenanya aktivitas sosial pun lebih diarahkan pada hal-hal yang bersifat khusus yang menunjang ibadah puasa.

Hampir tak ada kegiatan sosial yang bersifat pesta dilakukan pada bulan Puasa. Hajatan (khitanan atau pernikahan) selalu dihindari untuk dilakukan pada bulan Puasa. Menghindari kegiatan semacam itu juga dilakukan pada bulan Kapit, yang dimaknai sebagai bulan yang akan membawa malapetaka. Kalender sosial semacam ini sangat berpengaruh pada jadwal pentas grup-grup kesenian di daerah Cirebon-Indramayu. Jadwal grup-grup kian yang biasa berpentas pada acara hajatan tersebut, akan terlihat kosong untuk bulan Puasa dan Kapit.

Pemaknaan terhadap bulan-bulan tertentu sangat mungkin memiliki latar belakang momentum agama (Islam) atau kepercayaan tertentu. Bulan Sura berlatar peristiwa padang Karbala, bulan Mulud berlatar Maulid Nabi Muhammad SAW, bulan Rejep/Rajab berlatar Isra’ Mi’raj, sedangkan bulan Puasa berlatar perintah shaum dan peristiwa Nuzulul Qur’an.

Peristiwa di balik waktu, bagi masyarakat adalah berkah tersendiri. Memaknai bulan adalah sebuah berkah yang banyak memberi hikmah dan amanah. Bukan hanya bulan yang dianggap baik, juga yang dianggap akan membawa bala. Seluruhnya adalah berkah, yang harus diperingati.

Kalender Jawa
Meskipun berakar pada kalender Hijriyah (Islam), penggunaan kalender dalam masyarakat Jawa (termasuk di Cirebon dan Indramayu) lebih bersumbu pada kalender Jawa. Kalender itu diciptakan Sultan Agung pada tanggal 8 Juli 1633 M atau bertepatan dengan 1 Muharam 1043 H atau Tahun Baru Saka 1555. Meskipun demikian, dialek dan idiolek Cirebon-Indramayu memberi warna yang berbeda.

Dalam duabelas bulan, nama-nama bulan itu tidaklah bernuansa Jawa (Tengahan), tetapi lebih berlafalkan kultur Cerbon-Dermayu, yakni Sura (dibaca tetap Sura, bukan Suro), Sapar, Mulud, Sawal Mulud (bukan Bakdo Mulud), Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejep (bukan Rejeb), Rowah (tidak diucapkan Ruwah), Puasa (bukan Poso), Sawal, Kapit (bukan Dulkangidah), dan Rayagung (bukan Besar).

Peristiwa dan waktu seringkali dimaknai sebagai momentum tertentu. Tentu saja bukan hanya memaknai peristiwa dalam momentum waktu bulan. Keberadaan manusia pun sejak di kandungan hingga ketiadaannya, dimaknai dengan hitungan waktu. Pemaknaan itu sebagai berkah, yang kemudian berkonotasi dengan upacara. Bayi di dalam kandungan memiliki momentum tersendiri ketika berusia empat bulan kandungan. Upacara ngupati (membuat ketupat) konon berawal dari angka papat (empat). Ketika berusia tujuh bulan kandungan, diperingati dengan mandi air kembang setaman atau mitung wulan.

Saat kanak-kanak hingga dewasa, berbagai upacara akan ditemui. Dari khitanan, rasulan, hingga pernikahan. Bahkan ketika manusia itu meninggalkan dunia pun, peringatan berlangsung secara periodik. Nelung dina (tiga hari), mitung dina (tujuh hari), matang puluh (empat puluh hari), ngatus (seratus hari), nendak sepisan (setahun), nendak pindo (dua tahun), dan ngewu (seribu hari).

Budaya Puasa
Sebagai bulan yang menempati strata tertinggi dalam pemaknaan secara sosial dan agama, Puasa beriringan dengan nuansa budaya. Ritual berpuasa dari sahur hingga buka, serta aktivitas malam dari buka hingga sahur, memiliki celah-celah yang kemudian diiringi masuknya budaya. Dari suatu kebiasaan sederhana, kemudian menjadi tradisi, lalu meningkat menjadi budaya. Jika separuh abad sebelumnya hanya berupa bebersih dan berbagi, kini budaya baru makin mewarnai, yang memiliki relasi dengan nilai sosial dan ekonomi.

Melalui ponsel, pesan pendek dikirim-kirimkan untuk “mengucapkan selamat berpuasa dan juga mohon maaf”. Nilai sosial seperti ini, pada dekade sebelumnya dipastikan tak ada. Tiap sore demi untuk berbuka, makanan dan minuman diburu dan disediakan. Nilai ekonomi seperti ini juga meningkatkan dana pengeluaran rumah tangga, tetapi juga membuka lahan pekerjaan bagi para pedagang dadakan. Tradisi luru sore (ngabuburit) menjadi acara tersendiri sambil menunggu waktu magrib.

Pada malam hari, ada tradisi membangunkan orang untuk sahur. Berbagai alat bunyi (musik) dilakukan sambil ronda. Dari alat sederhana (menabuh bambu, logam, kayu) hingga berupa seni pertunjukan (reog, kempling/gamelan, dangdutan). Ketika rombongan seni itu mampir di suatu perempatan atau depan rumah, ada tradisi sawer (memberi uang receh). Tetapi ada juga merayakan kegembiraan dengan bermain bledogan (petasan). Bahkan pedagang petasan marak, omzat juga meningkat.

Korelasi antara momentum agama dengan budaya melahirkan dinamika sosial yang seringkali tak terpikirkan sebelumnya. Memaknai momentum bulan, tentu saja, tidak sama dengan perayaan secara liar. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: