Resume Percakapan Follow Up Research Indramayu

  1. 12 April 2010, Studio Teater Garasi, 13.00  – 16.00 WIB

(Peserta: Yudi Ahmad Tajudin, Yennu Ariendra, Clink Sugiarto, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, Andy Seno Aji, Gunawan Maryanto, Johan Didik)

Clink belum bisa membayangkan bagaimana situasi di Indramayu berangkat dari tulisan-tulisan hasil riset. (Catatan: Clink tidak berangkat mengikuti riset pertama tersebut) Tapi begitu melihat foto-foto hasil riset, ia bisa membayangkan apa yang dilihat dan didapati oleh teman-teman yang berangkat riset. Rough, kata Clink. Situasi yang ia lihat di foto-foto tersebut terasa kasar dan lucu: tong sampah berbentuk telur, patung jalan yang berbentuk aneh (seperti Teletubies atau Dragon Ball) dengan latar belakang perahu layar. Clink jadi berpikir apa yang sesungguhnya dipikirkan oleh pembuat atau pencetus benda-benda tersebut. Imajinasi macam apa yang berada di sana. Theo juga menambah ada banyak baliho calon bupati dari PDIP yang mengenakan dasi merah bermotif Snoopy . Seperti ada yang tidak nyambung antara satu hal dengan hal yang lain.

Mengenai bentuk-bentuk panggung tarling dangdut dengan atap yang seperti kubah (melengkung) Clink melihat kesamaannya di beberapa daerah lain di pantura. Yudi menambahkan bahwa bedanya ada pada ketinggian. Panggung-panggung tarling dangdut di Indramayu lebih tinggi.

Berangkat dari pengalaman riset Yudi memunculkan kata “Schizofrenic”. Tiba-tiba kata itu yang terlintas, katanya, untuk membahasakan ketidakterhubungan hal-hal dan benda-benda yang ia saksikan. Di dalam sebuah ruang sama terdapat banyak narasi yang tidak terhubung satu sama lain. Contoh: sawah dengan tarling dangdut (kostum dan perfomance-nya). Tapi hidup, tumbuh, dan berjalan. Mungkin menarik juga untuk dicari lebih jauh bagaimana sejarah itu semua, benda-benda yang mungkin terasa tak terhubung satu sama lain tersebut.

Clink bertanya bagaimana cara mereka mencerap hiburan (tarling dangdut). Dari beberapa amatan teman-teman yang berangkat juga dari informasi yang berhasil dikumpulkan, respon mereka atas tarling dangdut berbeda-beda. Tergantung daerahnya. Apakah daerah nelayan atau petani. Di daerah nelayan respon mereka lebih terbuka—lebih kasar. Saweran yang didapat penyanyi juga beragam, tergantung dari kemakmuran daerah yang mengundangnya.

Yudi memunculkan bahwa tarling dangdut berangkat dari tonalitas tarling—gabungan Sunda dan Jawa. Itu yang membedakannya dengan dangdut kebanyakan. Juga masih tetap menggunakan bahasa Dermayon. Mungkin mirip kendang kempul di Banyuwangi yang menggunakan bahasa Osing. Bedanya mungkin pada akar tradisinya yang belum terlalu panjang. Tarling konon lahir tahun 30-an. Berangkat dari permainan gitar dan suling. Secara umum kebudayaan Indramayu seperti terus-menerus baru dan tidak memiliki beban tradisi. Perbandingan Amerika dan Eropa. Yudi menambahkan, bedanya Indramayu dengan Cirebon adalah Cirebon memiliki kraton (sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan pada jamannya).

Berikut seklumit sejarah Indramayu yang sempat beberapa kali muncul dalam percakapan:

Putra Tumenggung Gagak Singalodra dari Bengelen Jawa Tengah bernama Raden Wiralodra yang mempunyai garis keturunan Majapahit dan Pajajaran, dalam tapa baratanya di kaki Gunung Sumbing mendapat wangsit.

“Hai Wiralodra apabila engkau ingin berbahagia berketurunan di kemudian hari, pergilah kearah matahari terbenam dan carilah lembah Sungai Cimanuk. Manakala telah disana, berhentilah dan tebanglah belukar secukupnya untuk mendirikan pedukuhan dan menetaplah disana. Kelak tempat itu akan menjadi subur dan makmur serta tujuh turunanmu akan memerintah disana”. Demikianlah bunyi wangsit itu.

R. Wiralodra ditemani Ki Tinggil dan berbekal senjata Cakra Undaksana. Tokoh-tokoh lain dengan pendiri pedukuhan dimaksud adalah Nyi Endang Darma yang cantik dan sakti, Aria Kemuning putra Ki Gede Lurah Agung yang diangkat putra oleh Putri Ong Tien istri Sunan Gunung Jati. Ki Buyut Sidum / Kidang Pananjung seorang pahlawan Panakawan Sri Baduga dari Pajajaran, Pangeran Guru, seorang pangeran dari Palembang yang mengajarkan Kanuragan dengan 24 muridnya.

Pedukuhan tersebut berkembang dan diberi nama “Darma Ayu” oleh R. Wiralodra yang diambil dari nama seorang wanita yang dikagumi karena kecantikan dan tkesaktiannya “Nyi Endang Darma”, serta dapat diartikan “Kewajiaban Yang Utama” atau “Tugas Suci”.

Pedukuhan Cimanuk yang diberi nama “Darma Ayu” yang kemudian berubah menjadi “Indramayu”, setelah terbebas dari kekuasaan Pajajaran pada tahun 1527, diproklamirkan berdirinya oleh R. Wiralodra pada hari Jum’at Kliwon tanggal 1 Muharram 934H atau 1 Sura 1449 dan jatuh pada tanggal 7 Oktober 1527. Titimangsa tersebut resmi sebagai Hari Jadi Indramayu.

Setelah 1527, Daerah Indramayu terbagi dalam tiga propinsi meliputi :

Propinsi Singapura, meliputi sebelah timur sampai Sungai Kamal.
Propinsi Rajagaluh, meliputi daerah tengah sampai Jati tujuh.
Propinsi Sumedang, meliputi bagian barat sampai Kandanghaur.

Tahun 1681, mulai dikuasai kompeni.

Zaman pemerintahan Daenles (1806 – 1811) daerah sebelah barat sungai Cimanuk dimasukan dalam prefektur Cirebon Utara. Pada masa ini berada dalam kekuasaan kerajaan Demak. Tahun 1546 menjadi bagian kesultanan Cirebon.

Tahun 1615 sebelah timur Sungai Cimanuk menjadi bagian keultanan Cirebon dan bagian baratnya ermasuk dalam wilayah kerajaan Mataram.

Tahun 1681, mulai dikuasai kompeni. Zaman pemerintahan Daenles (1806 – 1811) daerah sebelah barat sungai Cimanuk dimasukan dalam prefektur Cirebon Utara. Pada zaman kompeni menjadi ajang masuk pertempuran segitiga antara kompeni, Mataran dan Banten. Tahun 1706, Indramayu jatuh kedalam kekuasaan kompeni Belanda seluruhnya seperti halnya dengan daerah-daerah lain, Indramayu mempunyai perjalanan yang sama berada dalam kekuasaan penjajahan.

(Sumber : jabar.go.id)

Sejak awal terlihat/terbaca bahwa Indramayu adalah hasil percampuran dari banyak hal. Dan ini cukup menjelaskan perihal schizofrenia yang tampak dalam riset singkat tim TK yang pertama. (Bentuk kesenian) Baru dan lama tak menjadi soal. Tidak terlihat tendensi yang besar untuk merawat tradisi. Clink juga menambahkan bahwa yang kemudian lebih terlihat adalah semangat untuk bertahan. Bagaimana tarling dangdut terus berubah dan bertambah dari waktu-ke waktu untuk bisa bertahan di tengah masyarakatnya.

Yudi dari dulu merasakan perbedaan tajam antara Indramayu dan Jogja. Jogja menurutnya terasa lebih utuh. Yudi menunjuk Bumiayu sebagai batasnya. Bumiayu ke Jogja terasa keutuhan budayanya, dibanding Bumiayu ke arah barat (Indramayu)—semakin kering dan pecah. Karena jauh dari pusat kebudayaan, Indramayu seperti tumbuh tanpa desain dan hidup dalam dinamikanya sendiri.

Mungkin menarik untuk melihat lebih jauh kehidupan sehari-hari masyarakat Indramayu. Bagaimana kreatifitas bertebaran di mana-mana—kreatifitas di luar mainstream. Hal ini berkait dengan kondisi geografis Indramayu yang merupakan daerah pesisir dan perlintasan sejak lama.

Sempat muncul pertanyaan dari Andy, jika secara visual “schizofenik” apakah secara mental demikian juga. Yudi mengiyakannya. Ia menunjuk desanya di Indramayu, Kopiah, sebagai contoh. Di mana di sana sejak dulu tarling dangdut, juga kesenian yang lain tidak tumbuh. Kehidupan agamanya terasa lebih kuat dibanding daerah lain. Tetapi tradisi Jawanya (selamatan, nyekar ke kuburan) tetap berjalan tanpa gangguan—tidak dilihat sebagai hal yang bertentangan. Mungkin itu adalah salah satu akar dari permisifitas Indramayu. Etik yang berlangsung adalah etik survival. Ini semua tentu saja masih berupa spekulasi (seliruh upaya penjelasan tersebut), ungkap Yudi. Yang tidak merupakan spekulasi adalah hal-hal yang tampak di permukaan. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya schizofrenia tersebut bisa dilihat dari kloset duduk yang mulai dibangun di rumah-rumah TKI. Atau bentuk-bentuk rumah tanpa akar yang jelas (Spanyolan dengan tiang-tiang besar di teras rumah). seperti tidak melihat sejarah dan makna dari benda-benda atau bentuk yang dibawa tersebut. Rileks daja dengan semua itu—nyambung tidak nyambung, cocok tidak cocok. Amatan atas kehidupan sehari-hari masyarakat Indramayu ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera dikejar dalam riset selanjutnya.

Selanjutnya tim melihat foto-foto dan mendengar rekaman-rekaman tarling dan tarling dangdut

  1. 13 April 2010, Studio Teater Garasi, 11.00 – 14.00 WIB

Tim mulai mengidentifikasi ide-ide awal yang bermunculan berangkat dari riset I

Ide-ide visual yang sempat muncul di antara adalah:

  1. Dinding Speaker (dari arak-arakan Singa Depok)
  2. Bentuk singa dan juga boneka-boneka yang lain dari properti yang digunakan dalam kesenian Singa Depok.
  3. Hujan duit
  4. Video realtime yang dimanipulasi secara visual
  5. Panggung tarling dandut mobile di luar gedung
  6. Interaksi langsung penyanyi dengan penonton
  7. Paradoks antara muatan yang sedih dan bentuk yang riang. Misal: memunculkan penderitaan dengan bentuk yang berlawanan.
  8. Bentuk-bentuk tugu atau monumen
  9. Padi/gabah (dalam karung dan sedang dijemur di jalan)
  10. Kostum penyanyi: stocking—untuk memberi warna kulit. Dan paduan yang tidak nyambung(warna dasi Cabup dari PDI yang merah dan bermotif Snoopy)
  11. Kehadiran benda-benda yang tidak berada di tempatnya (kloset duduk, ayam di speaker)

Selanjutnya Yudi memunculkan kepada tim untuk berhati-hati dengan stereotyping—melihat dari luar dan buru-buru melabeli. Bahwa Indramayu adalah… Bentuk bangunan tugu itu adalah pernyataan identitas dan imajinasi orang-orang Indramayu. Yudi juga memunculkan bahaya untuk menjadi esensialis—bahwa ada pengertian yang tunggal. Di awal tentu saja tidak menjadi masalah, karena mungkin yang tertangkap di awal adalah stereotype-stereotype. Tetapi itu semua harus dikejar lebih jauh lagi sehingga yang tertangkap bukanlah stereotype-nya atau labelisasi yang dilakukan dari luar dengan tergesa.

Andy menjawab, salah satu cara untuk terhindar dari stereotype iniadalah merujuk kembali ke gagasan awal tubuh ketiga dan melihat perbandingan-perbandingannya dengan daerah lain yang mungkin memiliki praktik/situasi serupa—tidak berhenti di Indramayu dan organ tunggal.

Yudi kembali menegaskan bahwa tubuh ketiga bukanlah perihal Indramayu dan penyanyi ortung itu sendiri. itu semua hanya jalan untuk membicarakan apa yang disebut dengan kenyataan ketiga. Untuk memperluas spektrum, upaya untuk mencari kenyataan-kenyataan ketiga di ruang yang lain menjadi sangat penting.

Riset yang pertama kemarin belum menggali terlalu jauh—baru perkenalan awal. Temuan-temuan pertama ini semuanya dalam status digali lebih dalam lagi, biar tidak menjadi definitif. Yang bisa dilakukan di awal ini adalah inventarisasi dan mendeskripsikan saja hal-hal yang tampak terlihat. Memaparkan saja fenomena yang berlangsung tanpa buru-buru melakukan esensialisasi.

Yang kemudian harus dilakukan adalah mencari kenyataan-kenyataan ketiga yang secara personal dihadapi oleh anggota tim. Menjadikan tema tersebut personal.karena apa yang hendak dibicarakan adalah persoalan kita sendiri, bukan persoalan orang lain—kembali lagi ke kerangka awal TK.

Yudi sempat memunculkan karya Ameng (foto-foto penyanyi dangdut) dan Wimo Ambala Bayang (residensi di Malang) sebagai contoh karya yang bisa menghidar dari konstruksi esensial. Sempat juga muncul pertanyaan kenapa dalan seni pertunjukan kecenderungan untuk menjadi esensialis cukup besar dibanding medium yang lain. Ekspetasi penonton demikian juga.

Bahaya untuk menjadi esensialis, melakukan labelisasi, ini semua adalah peringatan di awal proses TK. Agar seluruh tim lebih berhati-hati dan menggali lebih dalam lagi dari apa yang sekadar tampak di permukaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: