Percakapan dengan Santi Revaldi

Santi Revaldi

(Penyanyi freelance, Losarang)

Setelah beberapakali bertanya dan tersesat kami akhirnya sampai juga di rumah Santi Revaldi, seorang penyanyi organ tunggal yang tinggal di Desa Losarang. Jalanan menuju rumah sangat becek sehingga agak susah untuk berjalan. Beberapa ibu dan anak sedang duduk-dudk ngobrol di teras rumahnya. mereka segera memanggil Santi begitu tahu kami tengah mencarinya.

Rumah tak terlalu besar. Kelihatan belum terlalu lama dibangun dan belum selesai. Dinding belum dilepa. Ruang tamunya cukup sempit, apalagi dipenuhi dengan satu set sofa—yang tampak masih baru. Seluruh lantainya dialasi dengan karpet plastik. Rumah yang sederhana.

Santi menyambut kami dengan malu-malu. Mungkin tidak menyangka kami datang berombongan. Setelah menyilakan kami masuk, dia pergi ke luar. Rupanya ke warung untuk membeli teh botol. Kemudian ia menyilakan kami masuk kembali ke ruang tamu karena kami sema keluar dan duduk-duduk di teras selama ia pergi ke warung. Di dalam ruang tamu ia tak mau duduk di kursi. Ia duduk di bawah saja meski kami berulang kali memaksanya. Akhirnya kami menyerah dan membiarkannya tetap duduk di lantai selama percakapan.

Ia baru saja pulang dari Jakarta. Habis manggung, katanya. Ia juga langsung mengabarkan bahwa besok siang dia juga main di desa Cipedang bersama kelompok organ tunggal desa tersebut, Candra Wulan. Tapi ketika kami sebut dengan istilah bintang tamu dia tidak mau. Bintang tamu itu untuk penyanyi yang sudah punya album, katanya. Kalau penyanyi seperti dia penyanyi panghibur saja, pelengkap istilahnya. Suami Santi juga seorang pemain organ tunggal. Ia memegang gitar melodi, terkadang mandolin. Karena sama-sama sebagai pemain cabutan mereka tak mesti main dalam satu panggung. Hanya kadang-kadang saja bisa main bersama.

Santi mengaku sejak kecil berlatih menyanyi. Tapi baru benar-benar menekuninya pada tahun 2005 setelah ia menikah. Waktu menikah ia masih berusia 16 tahun. Saat ini ia berusia 22 tahun. Ibu Santi adalah seorang sinden sintren. Selain menyanyi dangdut, Santi juga menyanyi lagu-lagu qasidah. Ia juga bisa menyinden seperti ibunya. Mula-mula ia mengikuti pentas-pentas ibunya sebagai ruangnya untuk belajar. Lalu sering juga ikut dengan teman-temannya yang sudah nyanyi terlebih dahulu. Tempat pentas terjauhnya sampai saat ini adalah di Tangerang. Brebes juga pernah, tambahnya. Kadang kalau pentas di Majalengka dan Sumedang ia naik motor saja, diantar oleh suaminya. Sebagai penyanyi pelengkap ia harus berangkat dan pulang sendiri bersama. tidak bersama rombongan. Ia hanya diberitahu saja di mana panggungnya. Dan ia harus berangkat sendiri ke sana. Kadang kalau suaminya berhalangan mengantar, Santi diantar oleh bapak atau adiknya.

Menurut Santi, sekarang seniman kadang hanya cukup punya nama saja. Tidak harus memiliki panggung atau musisi sendiri. Ketika ada tanggapan ia tinggal menyewa saja.

Ketika ditanya kenapa ia tidak berangkat bekerja di luar negeri sebagaimana banyak teman di kampungnya, Santi menjawab bahwa selama masih ada kerja di sini dia akan tetap tinggal. Enak bisa dekat dengan suami dan anaknya (5 tahun). Musim panen adalah musim yang paling ditungggunya. Nyari uang gampang waktu musim panen. Meski banyak pesaing, menurut Santi ia masih bisa bertahan. Persaingan penyanyi di sini cuku fair, jelasnya.

Tak berapa lama kemudian datang suami Santi. Adi, 26 tahun, baru pulang dari kenduri di rumah tetangga. Ia pun turut bergabung bersama kami di ruang tamu. Ketika di tanya tentang gaya panggungnya, Santi mengatakan bahwa kebanyakan penyanyi di daerahnya tidak seronok. Ada batasan-batasannya kalau di sini, tegasnya. Bagi Santi lingkungannya bekerja cukup menyenangkan. Kadang pada saat sepi panggungan Santi suka sedih. Kangen pengen ketemu dengan rekan-rekannya di panggung. Beragam pengalaman buruk pernah pula dialaminya di atas panggung. Dari mulai diusilin orang mabuk, dicolekin pipinya sampai dicium. Biasanya Santi langsung lari ke luar panggung sambil menangis jika menemui kejadian seperti itu. Namun ia siap lagi tampil jika gilirannya datang. Santi tak pernah membalas perlakuan tersebut dengan kasar. Ia memilih menghindar. Berdasar cerita suaminya kadang sering terjadi keributan kalau penyanyinya berani kepada penonton yang mabuk tersebut. Yang cukup unik adalah sikap suaminya ketika melihat isterinya diperlakukan seperti itu. ia mengatakan tak bisa berbuat apa-apa. apalagi jika pada saat itu ia tengah bermain gitar. Namanya juga seniman, katanya. meski di hati tidak karuan tetap harus bisa menahan. Ia bukan isteri saya kalau di atas panggung, imbuhnya.

Mengenai besaran saweran yang diterimanya Santi mengaku tak pasti. Tergantung daerahnya. Ada yang suka nyawer, ada pula yang tidak. penonton yang paling royal nyawer menurutnya adalah daerah Parean, daerah nelayan yang cukup makmur.

Santi mengaku ingin menjadi artis ibukota. Bukan artis daerah. Ia juga tak ingin memiliki grup sendiri seperti Aas Rolani maupun Ekawati. Kalau di daerah kan tenarnya cuma sebentar. Beda kalau jadi artis nasional, katanya. Meski banyak tawaran dan cukup menggiurkan, Santi tidak mau bermain di diskotik untuk mengisi waktu luangnya di luar panggung. Pertama karena suami tidak mengijinkannya. Kedua ia takut dengan lingkungan diskotik yang menurutnya terlalu bebas. Suaminya juga mengiyakan.

Di panggung Santi lebih mengikuti kemauan penontonnya dalam pemilihan lagu. Kalau lagunya gak diikutin nanti takutnya gak ada yang nyawer, jelasnya. Lagi pula ia belum memiliki album atau lagu sendiri. pernah rekaman keroyokan diajak temannya, tetapi sampai sekarang belum keluar juga di pasaran.

Untuk persiapan manggung ke esokan harinya Santi akan berangkat dari rumah pukul 9 pagi. pertunjukannya sendiri akan berlangsung dari jam 11 sampai jam 4 sore. Santi biasanya mendapat giliran pertama dalam menyanyi. Santi sendiri tak tahu perayaan besok itu dalam rangka apa. Ia juga tak terlalu perduli. Yang penting tahu alamatnya. Datang dan menghibur. Yang bekerja dan dibayar. Perbandingan antara saweran dan bayaran juga tak menentu. Tergantung daerahnya, tegasnya sekali lagi. Pernah ia hanya mendapat saweran 4 ribu rupiah. Susah juga untuk membagi uang sekecil itu dengan penyanyi yang lain. Kalau panggung besar saweran harus dibagi setidaknya dengan 20 orang. Di panggung kecil ia berbagi hasil saweran dengan 11 orang.

Saat ditanya bagaimana caranya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang artis nasional, Santi menjawab melalui jalan audisi. Ia pernah mengikuti audisi di sebuah radio, tetapi hanya lolos sampai di Bandung. Tetapi karena di Indramayu tak pernah ada lagi audisi ia jadi tak pernah ikut. Adanya cuma di Cirebon, katanya.

Musim ramai tanggapan hanya berlangsung sekitar 4 bulan, ungkap Santi. Dari musim panen dan berakhir di bulan puasa. Di luar bulan itu biasanya Santi hanya tinggal di rumah merawat anaknya, berkumpul dengan tetangga. Sedang suaminya kerja serabutan, jadi buruh tani, buruh bangunan atau apa saja yang bisa dikerjakan. Santi tidak bekerja di sawah. Entah kenapa. Menurutnya tak banyak perenpuan yang bekerja menjadi buruh di sawah. Kecuali ika sawah tersebut adalah miliknya sendiri, maka mau tak mau ia akan turun ke sawah. Kalau tak bisa nyanyi mungkin ia sudah menyusul teman-temannya bekerja di luar negeri.

Sebagai seorang penyanyi Santi ingin menjadi penyanyi seperti Dewi Kirana dari Anjatan. Menurutnya penampilan Dewi Kirana sangat menarik. Banyak penggemarnya. Masih muda tapi sudah terkenal. Dalam menjaga penampilannya di panggung setidaknya Santi harus belanja kostum per tahun 5 – 7 setel. Kadang waktu ada manggung di Jakarta Saanti mampir ke Mangga Dua untuk belanja kostum. Untuk satu kostum Santi menganggarkan uang sebesar 150 – 200 ribu. Untuk sepatu anggarannya sebesar 130 – 150 ribu.

Jumlah order yang diterima sepasang suami isteri muda ini sangat berbeda. Adi menjelaskan bahwa kebutuhan akan penyanyi lebih banyak dari pada pemusik. Dalam mempersiapkan lagu-lagu baru Santi lebih mengikuti apa yang sedang digemari. Barulah ia kemudian mempelajarinya. Tidak setiap lagu baru atau album baru ia pelajari.

Santi cukup bangga berkaris sebagai penyanyi. Bersyukur bisa mennyai dan menghibur banyak orang. Perihal kesan negatif seorang penyanyi dangdut yang seronok Santi mengaku bisa menjaga diri. Ia kadang sering mengingatkan temannya untuk tidak memakai kostum yang terlalu terbuka. Karena menurutnya yang utama adalah suara.

Adi cukup berbangga denga jerih payah mereka berdua. Setidaknya mereka bisa membangun rumah sendiri meski masih belum sempurna. Ide tentang bentuk rumah berasal dari Adi, tetapi yang merancang keseluruhan adalah ibunya. Adi hanya ingin rumah dengan ruang yang terpisah-pisah. Maka luas rumah yang tak terlalu besar itu pun dibagi menjadi ruang-ruang yang kecil: kamar tamu, kamar tengah, kamar tidur dan dapur. Ada kamar mandi juga di dalam kamar. sedang yang membangun rumah adalah ayahnya dan tukang-tukang. Tentang kamar mandi dalam Santi menjelaskan karena dirinya sangat penakut. Terlebih kepada hantu. Jadi tiap kali Adi manggung dan Santi tinggal di rumah, ia harus ditemani oleh banyak orang, kadang keluarga atau teman-teman.

Mengenai nama panggungnya Santi menjelaskan bahwa nama tersebut diusulkan oleh temannya. Santi ditambah dengan Reva dan Adi (nama anak dan suaminya). Jadilah nama Santi Revaldi. Nama aslinya adalah Canti Ayani. Mencari nama panggung yang apik seperti sudah menjadi kelaziman.

Mengenai sejarah perkawinannya Adi bercerita bahawa ia sudah mengenal Santi sejak kecil. karena mereka sama-sama tinggal di satu kampung. Cuma beda gang, tambah Santi. Dan ketika Adi duduk di kelas dua SMA ia melamar Santi. Semula  Adi tidak berprofesi sebagai pemain gitar. Ia bekerja sebagai buruh pabrik keramik. Tetapi karena ingin selalu menemani Santi, mengantarnya ke tempat pertunjukan (di mana hal tersebut akan lebih memperkecil pengeluaran), Adi mulai belajar main gitar dengan serius. Darah seni yang mengalir di tubuhnya tampaknya tak bisa ia tolak. Ayahnya adalah seorang pemain genjring. Kakeknya sempat pul aterkenal sebagai seorang pemain genjring yang piawai sebelum meninggal. Akhirnya setelah merasa cukup punya modal bermain gitar dan berhasil mendirikan rumah, Adi memutuskan berhenti menjadi buruh pabrik keramik. Gaji cuma 30 ribu sehari, sedang untuk ongkos ojek isterinya ke panggung bisa sampai 40 ribu. Jadi mending dia saja yang menjadi tukang ojek, sembari kalau ada lowongan pemain gitar ia bisa turut bermain. Tidak dibayar tak apa, asal mendapat rokok dan bagian saweran.

Mereka sewaktu belum menikah sempat pula mendirikan grup qasidah. Namun bubar karena masing-masing harus bekerja setelah selesai sekolah. Akhirnya Adi menikahi Santi dan bekerja di pabrik. Sedangkan Santi mencoba menjadi penyanyi organ.

Selanjutnya Santi menunjukkan dokumentasi pertunjukannya di ruang tengah. Ia juga menyetel VCD Dewi Kirana. Tak berapa lama kemudian datang seorang tamu. Santi memanggilnya sebagai Mama. Rupanya ia adalah pemilik grup organ di mana Santi sering diajak main. Di tengah asiknya percakapan tiba-tiba saja listrik padam. Dan pertemuan pun harus diakhiri. Kami berjanji untuk datang pada pertunjukan Santi di Cipedang keesokan harinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: