Percakapan dengan Ekawati

Eka

(Pimpinan Grup Organ Ekawati, Tambi)

29 Maret 2010

Eka adalah penyanyi organ pertama yang kami temui. Kebetulan rumahnya tak jauh dari Sanggar Mulya Bhakti tempat di mana kami menginap. Dengan berjalan kaki kami mendatanginya. Ditemani Pak Bambang rekan Mbak Wangi. Mbak Wangi sengaja meminta Pak Bambang sebagai mediator perkenalan kami dengan Eka karena ia adalah paman dari suami Eka.

Rumahnya tak terlalu besar. Tapi terlihat ada ruang bermain billyar di sebelah belakang. Beberapa lelaki tengah asik bermain Billyard di kejauhan ketika kami sampai di teras rumah Eka. Tak berapa lama suami Eka membuka pintu dan menyilakan kami masuk. Sebuah ruang tamu yang tak terlalu luas. Satu set sofa. Bunga-bungaan dari kaca di meja. Di sudut ada sebuah kursi dan meja kantor. Di dinding dua foto Eka berukuran besar. Di antara kedua foto tersebut terletak sebuah hiasan kepala seseorang, semacam relief dari besi. Belakangan baru kami tahu bahwa hiasan berbentuk kepala tersebut berwajah Beethoven. Kemudian Eka pun keluar menemui kami. Sederhana saja. Kaos oblong dan celana selutut. Sebelumnya kami sudah mendapat informasi bahwa Eka akan pergi menyanyi di diskotik malam itu. jadi percakapan mungkin tak akan terlalu lama.

Kemudian dengan sangat lancar dan lugas Eka bercerita tentang diri dan kelompoknya, meladeni pertanyaan-pertanyaan kami.

Eka berasal dari keluarga seniman. Bapaknya adalah pemain sandiwara. Dulu sebelum menjadi penyanyi adalah pemain akrobat. Genjring atau rudat—semacam sulap (sekitar tahun 1987 waktu masih SMP). Waktu musim tarling ia ikut pula bermain tarling. Waktu datang musim organ kemudian ia menjadi penyanyi organ. Dan tampaknya ini adalah pilihan terakhirnya. Enak main di organ karena simpel, tuturnya. Tidak banyak orang. Tidak banyak panjak-panjak (pemain) seperti dalam musik hidup (sandiwara, tarling). Menurutnya organ yang main cuma satu orang tapi musik yang dihasilkan macam-macam: kendang, suling. Namun dalam perkembangannya, karena bersaing dengan tarling, maka tiap tahun harus ada peningkatan/penambahan. Mulailah ditambahkan gitar melodi, suling, terompet dan kendang. Supaya tidak kalah dengan tarling, katanya. Kalau di Jawa seperti musik campur sari.

Ia mendirikan grup organ sejak 15 tahun yang lalu, setelah keluar dari Grup Tarling Hj. Nengsih, kurang lebih satu tahun setelah Hj Aas Rolani mendirikan grup organ tunggalnya. Semula grupnya bernama Eka Nada. Namun setelah bercerai dengan suami pertamanya pada tahun 2006 ia harus berganti nama karena nama tersebut menjadi milik suaminya. Benar-benar ia tak mendapat bagian apa pun dari grup tersebut. Seluruh musisi dan awak panggung menjadi hak dari bekas suaminya. Kemudian Eka memutuskan untuk menjadi penyanyi di diskotik. Sendirian tanpa grup. Namun kenyataan seluruh musisi dan awak panggungnya kemudian memilih bergabung dengan Eka. Akhirnya dengan ia mendirikan kelompok baru bernama Ekawati. Diambil dari nama anaknya. Berdasar saran seorang paranormal, Eka menambahkan nama Putra di belakang Ekawati. Tapi orang lazimnya menyebut grup tersebut tetap Ekawati.

Eka telah mengeluarkan 5 album (Asal Sing Kuat, Masih Dhemen, Kembang Zaitun, Doyan Mabok, Sabarlah Sayang). Eka tidak mengarang lagu sendiri, tapi membeli dari pengarang-pengarang lagu setempat. Harga lagu utama sekitar satu juta rupiah. Harga tersebut berlaku untuk pengarang-pengarang lagu yang sudah tenar. Untuk pengarang lagu baru harganya duaratus ribu per lagu. Setiap lagu sudah lengkap dengan aransemen musiknya berbentuk disket. Sudah ada musiknya, jelas Eka.

Dalam tiap pertunjukannya, Eka tidak hanya membawakan lagu-lagunya sendiri. Tetapi tergantung dari permintaan tuan rumah atau penonton. Karena yang dicari adalah saweran. Hanya biasanya ia mengawalinya dengan lagu yang ada di albumnya. Selanjutnya tergantung dari permintaan penonton. Jadi mau tidak mau ia harus menghafal banyak lagu agar bisa memenuhi segala macam permintaan. Apalagi ia juga bekerja sebagai penyanyi di diskotik.

Dalam setiap kali manggung Ekawati setidaknya melibatkan 10 orang pemusik (organ, bas, melodi, terompet (2), suling, tamborin (2) dan kendang). Penyanyi 6 orang. MC 1 orang. Petugas soundsystem 7 orang. Kru panggung 7 orang. Masih ditambah lagi dengan pemain-pemain tarling. Karena dalam setiap pertunjukannya Ekawati juga menggunakan drama (tarling). Kelompok tarling ini bermain setelah dangdut selesai pada jam 12 malam. Menurutnya tarling adalah konsumsi orang tua, sedang organ adalah konsumsi anak muda. Untuk merangkul keduanya, Ekawati tetap menggunakan tarling yang bermain dari jam 12 malam hingga 3 pagi. Biar orang tarlingnya bisa makan, tambah Eka. Sama-sama seniman, kasihan kalau tidak bisa makan. Jadi kebagian semua.

Selama menjadi penyanyi organ pengalaman Eka yang paling buruk adalah ketika ia dan rombongannya mengalami kecelakaan. Mobil yang ditumpanginya tercebur ke sungai. Empat bulan bermain non-stop membuat pengemudinya kelelahan. Ketika ditanya pengalaman buruknya ketika main di panggung Eka cuma tertawa. Enak saja, jawabnya. Karena banyak saweran. Paling cuma tempat manggungnya saja yang kurang nyaman. Ada beberapa tempat yang benar-benar kering sehingga ia dan rombongannya terpaksa harus mandi pakai air kemasan. Misalnya di daerah Bondet.

Menurut pengakuannya penonton organ di Indramayu masih cukup banyak. Tapi juga tergantung dari ketenaran kelompok organ yang main. Kelompk organ di Indramayu memang cukup banyak seperti jamur. Tapi yang tenar bisa dihitung  (Ekawati, Hj. Aas Rolani, Dewi Kirana, Nunung Alvi, Teh Rina). Memang banyak penyanyi sekarang yang punya album. Tapi tidak bertahan lama. 3 bulan sudah menghilang. Rekaman jaman sekarang sudah sangat gampang. Tidak seperti dulu waktu Eka memulai karirnya.

Di samping bermain bersama grupnya, Eka tetap menyanyi secara rutin di diskotik. Karena diskotik tidak mengenal musim. Meski hujan dan bukan musim panen diskotik tetap jalan. Gajinya memang tidak banyak. Hanya 30 ribu per malam. Tapi di luar itu ia tetap mendapatkan saweran yang jumlahnya bisa mencapai 200 sampai 300 ribu per malam. Pendapatan dari panggung tanggapan diperuntukkannya untuk anggota. Yang penting saya tidak rugi saja, katanya. Untuk itu Eka tetap mempertahankan pekerjaannya di diskotik. Meskipun sedang mendapatkan tanggapan di panggung selama masih bisa terkejar waktunya ia akan tetap main di diskotik. Sehabis menyanyi 4 lagu bersama grupnya biasanya ia segera pamit. Jadwal mainnya di diskotik dimulai pukul 11.30 malam. Ia bernyanyi di diskotik selama 1,5 jam.

Ketika albumnya “Asal Sing Kuat”[i] laku lebih dari 10 ribu keping, Eka ditawari untuk membuat klip oleh bos-nya dengan membayar uang 10 juta rupiah. Dengan memiliki klip ia bisa masuk ke TV. Bahkan bos-nya menawarkan pinjaman terlebih dulu jika Eka tidak memiliki biaya untuk membuat klip tersebut. Tapi Eka menolaknya. Ia takut berhutang. Apalagi sama cina, katanya. Setelah 3 tahun album tersebut dilepasnya dengan harga 5 juta. Album kedua sepenuhnya Eka pasrah kepada bos-nya untuk mencari lagu dan menjualnya. Ia merasa lelah untuk mencari lagu. Ia menerima bayaran 3 juta rupiah untuk 10 lagu dalam album keduanya. Bos-nya adalah orang Jakarta. Orang MTR (perusahaan rekaman). Selain MTR, perusahaan rekaman yang bermain di Indramayu adalah Mahkota Record dan Dian Record. Sekarang penyanyi-penyanyilah yang mencari produser, ungkap Eka, beda dengan dulu, produserlah yang memburu penyanyi. Bedanya lagi sekarang semua proses rekaman dibuat di Indramayu, tidak di Jakarta lagi. Sehingga banyak penyanyi organ di Indramayu sekarang memiliki album. Asal berani membayar mereka dengan mudah memiliki album, dengan uang 5 juta bisa bikin satu album. Sangat berbeda ketika Eka mulai karirnya di dunia rekaman. Ia bisa menghabiskan 25 juta untuk rekaman 1 album. Sekarang yang penting keluar album dan diputar di radio-radio. Penyanyi sekarang juga tidak lagi tergantung dari penjualan albumnya, tetapi dari banyaknya tanggapan panggung. Beda dengan dulu di mana pendapatan dari album dan tanggapan cukup berimbang.

Sekarang Eka sedang menyiapkan album terbarunya. Rencananya akan dikeluarkan tahun depan. Album terakhirnya “Sabarlah Sayang” diluncurkan tahun 2006 yang lalu. Semuanya dalam bentuk kaset. Ini semacam kebangkitannya kembali setelah bercerai dengan suami pertamanya pada tahun 2006. Setelah badai rumah tangganya berlalu kini ia bersip kembali hadir dengan album barunya. Ia memilih tahun depan sebagai saatnya meluncurkan album berdasar saran dari paranormal yang didatanginya. Karena menurut paranormal tersebut tahun ini berapa pun modal yang ia keluarkan tak akan kembali lagi, apalagi untung.

Penghasilannya dalam tiap kali manggung katanya hanya sekitar 100-200 ribu rupiah setelah dibagi dengan seluruh tim yang terlibat. Bayaran penyanyi berkisar dari 120 – 200 ribu. Menurut Eka bayaran sejumlah itu jauh lebih besar dari pada yang didapatkannya ketika bermain tarling, yakni 20 ribu rupiah tiap kali manggung.

Sekali lagi Eka menegaskan betapa simpelnya menjadi penyanyi organ. Dibandingkan ketika dulu masih di genjring atau tarling. Di mana ia harus tekun berlatih. Menjadi penyanyi organ tinggal menghafal lagu saja. Tidak perlu latihan terlalu lama. Yang penting persis sama di kaset. Kalau di tarling mesti trance dua hari dua malam di rumah pimpinan. Kan musik idup, kata Eka. Di organ latihan hanya waktu mau rekaman karena harus mempelajari lagu baru. Kehidupan pemain organ juga jauh lebih baik dari pemain tarling. Sewaktu masih menjadi pemain tarling Eka baru selesai bekerja jam 3 pagi. Sedangkan ketika menjadi pemain organ ia bisa pulang lebih cepat, jam 12 malam. Waktu main tarling ia juga jarang pulang ke rumah karena harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Menurutnya penyanyi organ sekarang manja-manja. Tiap habis main pulang ke rumah dulu. Tidak mau langsung menuju tempat pertunjukan berikutnya sebagaimana pemain tarling. Sekarang grup sangat banyak. Dulu grup tarling cuma sedikit (Cahaya Muda, Bhayangkara, Wijaya). Sekarang saking banyaknya pemain dan pemusik, jadinya manja-manja (ngalem). Dulu semua pemain sangat patuh pada pimpinan. Memiliki disiplin yang kuat karena takut dikeluarkan dari grup. Sekarang penyanyi yang masih belajar saja harus diantar jemput tiap kali manggung.

Musim panen kali ini Ekawati akan mulai manggung pada tanggal 7 April di Losari. Sedangkan pada tanggal 24 April dia manggung di Cangkingan Jagapura. Eka mengundang kami untuk datang menonton. Gak ada ribut-ribut, paling-paling ribut nyawer, candanya. Kalau tidak ada yang nyawer penyanyi jadi kurang semangat. Maka harus pinter-pinter merayu agar mendapat saweran yang banyak. Penonton akan naik panggung untuk nyawer. Dulu penonton hanya nonton dari bawah. Sekarang penyawer jadi satu dengan penyanyi di atas panggung. Ia merasa lebih senang main di siang hari karena waktunya lebih panjang. dari jam 11 siang hingga jam 4 sore. Dibanding jika main malam, biasanya mulai jam 10 setelah acara sambutan-sambutan dan harus selesai jam 12 malam.

Penyanyi sekarang setengah mengkonon (bisa dipakai), ujar Eka. Seneng menjadi demenan polisi dan ABRI. Bangga karenanya. kebanyakan penanyi kemarin sore. Belum merasakan pahit getirnya kehidupan seniman. Tidak merasakan sengsara seperti jaman main tarling. Seni jaman dulu memperkaya pimpinannya. Kalau jaman sekarang, pimpinan yang memperkaya anggotanya. Tiap kali mau puasa para anggota berhutang (bon) pada pimpinannya. Jika tidak diberi mereka akan pergi ke kelompok lain. Tapi giliran ditagih susahnya bukan main. Pimpinan sekarang jadi seperti punya anak yang banyak, keluh Eka. Ia lebih senang dipanggil menjadi bintang tamu di grup lain karena akan mendapatkan bayaran utuh. Jika main di grup sendiri ia harus berpikir untuk penyanyi-penyanyi yang lain. Setiap kali diundang sebagai bintang tamu Eka mengaku mendapat bayaran 300 – 400 ribu per malam. Kalau dapat panggilan dari tuan rumah bisa mendapat 700 – 1 juta. Tapi kalau sesama seniman, misal dipanggil oleh bapaknya,  Eka tidak memasang tarif. Seperti pertemuan sesama pimpinan. Yang penting dikasih uang jajan, berapa pun banyaknya. Dalam musim panen kali ini Eka sudah mendapat beberapa tawaran menjadi bintang tamu. Yang terdekat ia menyebut tanggal 8 dan 12 April.

Eka juga sangat mengenal karakter orang-orang di mana ia akan bermain. Seperti rencana pertunjukannya di Losari. Ia menyebutkan tempat tersebut ada di daerah pesisir yang dipenuhi dengan empang-empang. Orang-orangnya bau bacin, katanya sambil terkekeh. Karena setiap hari bergaul dengan ikan. Orang-orang Losari kalau nonton organ semuanya naik panggung. Sehingga hampir tak ada ruang buat penyanyinya. Jadi panggung penuh dengan orang. Bukan mau nyawer tapi hanya mau nonton. Panggungnya sampai miring, suami Eka menambahkan. Mungkin karena masih awam, kata Eka. Jadi pengennya nonton dari dekat. Dari anak-anak sampai orang tua semuanya tumpah ruah di panggung. Mereka menonton dengan celotehan-celotehan kasar yang tidak enak didengar. Ekawati mencontohkan, “Kae penyanyi turuke sebaskom!” “Personile kayak kethek!” Maklum orang awam, ulang Eka. Seperti kalau main di Brebes. Celotehan-celotehan penontonnya bener-bener kasar. Eka mencontohkan lagi waktu kelompok tarling Hj. Nengsih main di Prapat. Haji Nengish sudah tidak seperti Haji Nengsih lagi. sama sekali tidak dihormati, “Haji Nengsih kok perutnya gedhe!” Pokoknya siapkan saja kupingnya, kata Eka. Enak didengar ya syukur, tidak enak juga harus diterima. Tapi mereka tidak nakal. Hanya kotor mulutnya saja, kata Eka. Ya itulah suka duka seniman, sambungnya.

Eka menyebutkan bahwa kehidupan penyanyi-penyanyinya sudah cukup baik. Sudah bisa bikin rumah. selain ikut grup Ekawati mereka juga main di diskotik-diskotik dengan pengahsilan masing-masing 200 – 300 ribu semalam. Setidaknya sudah ada empat penyanyinya yang berhasil membeli tanah dan membangun rumah. Grup-grup organ juga sangat banyak. Setiap desa ada kurang lebih 5 kelompok. Kelompok-kelompok Singa Depok[ii] pun sekarang punya organ. Siang ngarak sunatan dan rasulan, malamnya main organ. Harganya juga sangat terjangkau. 3,5 juta sudah termasuk ngarak dan organ. Hal itu menambah ketat persaingan, tutur Eka. Karena dulu Singa Depok hanya bermain di arak-arakan saja. Dulu dalam satu tahun Eka bisa main sebanyak 125 kali.

Untuk tetap bisa bersaing dengan Singa Depok atau kelompok organ yang lain Eka menambahkan variasi dalam pertunjukannya. Misal pada saat keluar MC Eka menmbahkan buta-butaan untuk mengaraknya. Setiap keluar vokalis juga ia membikin peristiwa yang menarik. Seperti digotong-gotong dan memasukkan peran-peran tuyul. Vokalisnya juga kadang pura-pura kesurupan untuk menarik perhatian. Kalau organ saja sangat monoton, tegas Eka. Variasi-variasi diperlukan agar penonton tidak bosan. Agar anak-anak dan orang tua bisa tertawa. Untuk keperluan itu Eka harus mengeluarkan biaya peralatan dan pemain-pemain tambahan.

Pemerintah daerah berdasar tuturan Eka sama sekali tak membantu pertumbuhan organ tunggal. Malah tiap kali ada perayaan seperti 17 Agustus para seniman diminta menyumbang uang. Mereka juga diwajibkan membeli kalendar dari pemerintah dengan harga 50 ribu. Setiap kali mendirikan panggung mereka juga harus membayar 25 ribu kepada pamong budaya setempat. Jika dalam satu bulan mereka manggung 10 kali setidaknya mereka mengeluarkan 250 ribu plus rokok untuk pamong yang selalu mendatangi pertunjukan mereka. jika tidak diberi mereka akan datang ke rumah Eka, mengecek pada buku agenda untuk memastikan jumlah pertunjukan. Mbak Wangi menambahkan bahwa orang-orang ini datang dari Dinas Pariwisata. Dan ini adalah pungutan liar yang menimpa semua jenis kesenian di Indramayu. Sebagai pimpinan grup Eka juga harus membayar 400 ribu per tahun untuk ijin usaha keseniannya. Jadi mereka harus memiliki semacam SIM yang harus diperbaharui setiap tahunnya. Eka juga menambahkan bahwa sekarang setiap personil juga diwajibkan memiliki semacam kartu anggota kesenimanan. Setiap orangnya 500 ribu. KTP dalang katanya.

Pungutan liar tak hanya datang dari pihak penerintah. Beberapa oknum wartawan juga melakukannya. Setiap kali menulis sosok penyanyi organ mereka mendatangi rumah penyanyi dan meminta imbalan. Tak tanggung-tanggung. Untuk tulisan pendek setengah halaman sebuah majalah lokal mereka bisa meminta 500 ribu. Namun Eka menolak membayanya karena pada waktu wawancara ia sudah dimintai 50 ribu untuk ongkos transport. Ia menunjukkan majalah tersebut kepada kami. Majalah Persada. Sebuah majalah internal sebuah organisasi. Tulisan tersebut berjudul “Penyanyi Cantik Ekawati Laris Manis di Pasaran”. Berisi tentang persiapan Eka dalam meluncurkan album terbarunya. Di sana digambarkan Eka tak ubahnya selebritis-selebritis televisi. Sok jaim. Sok main rahasia dan lain sebagainya. Sangat berbeda dengan sosok Eka yang tengah kami temui ini. Eka juga pernah ditulis oleh wartawan Radar dan dimintai uang 25 ribu oleh wartawan yang menulisnya.

Sejauh ini masyarakat cukup menerina kehadiran pemain organ, kata Eka. Tidak ada yang menentang. Hanya kalau main di pesantren biasanya mereka diminta untuk menyesuaikan jenis pakaiannya. Kadang mereka juga diminta untuk menyanyikan lagu-lagu qasidahan. Tapi makin malam yang jatuhnya jadi dangdut lagi karena permintaan penontonnya.

Berkarir sebagai penyanyi organ adalah sebuah kebanggaan bagi Eka. Seneng di mana-mana dipuja, katanya. Diistimewakan. Dihormati dan dihargai oleh masyarakat di sekitarnya atau masyarakat penanggapnya. Dan Eka pun harus balas menghormati mereka dengan menjaga penampilannya.

Sampai di sini kami harus pamit karena Eka harus berkemas menuju diskotik. Kami berjanji untuk menontonnya.


[i] Lamun bener Kakang pengen wayuan / Jika bener Kakang hendak kawin lagi

Asal adil ing wektu lan giliran / Asal adil dalam pembagian waktu dan giliran

Arep telu arep diwayuh papat / Mau beristri tiga atau empat

Mung sarate asal Kakang sing kuat / Syaratnya hanya asal Kakang  yang kuat saja

(Asal Sing Kuat karya Ipang Supendi)

[ii] Kesenian rakyat di Indramayu yang berfungsi sebagai upacara untuk mengarak penganten sunat dalam upacara khitanan. Penganten sunat diletakkan di atas patung singa yang kemudia dipanggul oleh para penari. Dinamakan Singa Depok (singa depek), karena secara anatomi ukuran tinggi kaki sisingaan relatif pendek atau tidak sesuai dengan ukuran yang sewajarnya. Hal ini atas pertimbangan keseimbangan dan keterjangkauan kaki anak sunat ketika duduk di atas panggung sisingaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: