Kerangka untuk Karya/Proyek Visual

“Java’s Machine: The Third Spaces” (a visual art project)

Sejarah kebudayaan Indonesia, sebagai bagian dari Negara-negara ‘dunia ketiga’ dan pernah terjajah, bisa dibaca seperti terus menerus berada dalam ‘situasi antara’. Atau, selalu berada dalam keadaan perpindahan (state of transition). Perpindahan dari pre-kolonial ke masa kolonial, masa kolonial ke pasca-kolonial; dari kebudayaan agraris ke industrial, industrial ke post-industri (era informasi yang lebih menekankan pada produksi dan transaksi jasa); dari kebudayaan dan kosmologi desa ke kebudayaan dan kosmos kota…

Dengan kata lain, sejarah kebudayaan Indonesia adalah sejarah kebudayaan ‘di antara’. Kebudayaan yang terletak di antara dua ruang budaya: di antara yang tradisional dan modern, yang asli dan asing, yang dalam dan luar, yang agung dan rendahan… Ia tidak pernah (lagi?) tinggal dan tumbuh di dalam satu ruang kebudayaan tertentu, yang spesifik, yang dengan tegas dan tajam berbeda dengan kebudayaan tertentu yang lain. Ia tersusun dari percampuran (dan excess) budaya. ‘Tubuh’nya terbangun dari lapisan-lapisan.

Meski sebagai suatu entitas kultural Indonesia tidak pernah tunggal, tetapi situasi antara dan keadaan perpindahan di atas seperti menjadi suatu kerangka besar yang melingkupi seluruh (sub)kultur yang ada di dalamnya dan menempatkan, atau menggerakkan, atau mengubah, atau membentuk, masing-masing sub-kultur tersebut.

Java, for instance. Due to its geographical position, Java has been a point of interface between continents and between oceans for a long time. Thus, its cultural history is a history of syncretism. Instead of opposing any incoming culture and religion, the Javanese were thought to have taken everything as necessary ingredients to form a new synthesis: a basic Javanese syncretism. This “system” then became the island’s true folk tradition, the ‘fuel’ of its civilization. The “machine” of its culture.

Syncretism then happened to be a strategy, even a system, in an attempt to reconcile, to manipulate, or to overcome disparate or contradictory beliefs; between the ‘old’ and the ‘new’, the ‘genuine’ and the ‘alien’, the ‘traditional’ and the ‘modern’; between ‘us’ and ‘the other’. As a result, the world produced by syncretism is a ‘collage’; a world filled with series of layers of beliefs and values.

However, the questions then arise: How are subjects or spaces formed ‘in between’, or in excess of, the sum of the parts of difference? How do the notion of subjectivity and spatiality be formulated where the exchange of values, meanings and priorities may not always be collaborative and dialogical, but may be profoundly antagonistic, conflictual and even incommensurable?

Merujuk pada kenyataan-kenyataan spasial dan formulasi-formulasi identitas yang tercipta, berkembang dan berlangsung di Jawa, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas bisa dilihat pada terciptanya kenyataan-kenyataan ketiga; ruang ketiga, tubuh dan/atau identitas ketiga.

Kenyataan ketiga adalah kenyataan hibrida. Kenyataan yang dibentuk (terbentuk) oleh percampuran atau gabungan dari banyak hal. Kenyataan ketiga adalah kenyataan post-colonial/dunia ketiga/Indonesia yang tersusun dari elemen-elemen yang satu sama lain penuh dengan kontradiksi, proses-proses nanggung (separuh jadi) yang membingungkan, dan berada di dalam situasi antara atau transisi (liminal).

Sebagai suatu metafora, kenyataan ketiga adalah satu istilah sementara dan lentur yang berupaya menangkap sesuatu yang sesungguhnya merupakan lingkungan gagasan, penampilan dan makna-makna yang terus menerus bergeser dan bergerak.

Penting bagi pemahaman atas metafora-metafora tersebut adalah pandangan bahwa tidak hanya ada satu definisi atas tubuh dan identitas, melainkan sekumpulan pendekatan dan perspketif.

Metafora(-metafora) di atas, adalah suatu “ruang” di mana isu tentang asal-usul, keterpengaruhan dan identitas dapat dibicarakan secara bersamaan tanpa memenangkan satu dibanding yang lain; di mana seseorang bisa menjadi muslim dan jawa sekaligus, local dan global, modern dan tradisional, ber-disiplin dan lintasdisiplin pada saat yang sama. Metafora-metafora itu berakar pada kombinasi-kombinasi ulang dan perspektif-persepektif yang terbuka secara radikal.

Bukan suatu sikap yang memilih ‘satu menyingkirkan yang lain’, melainkan berada di dalam logika ‘keduanya’ atau ‘dan juga’.

Selalu ada yang lain, ‘liyan’; terma ketiga yang memutus, mengacaukan dan mulai menyusun ulang penghadapan-penghadapan biner ke dalam posisi lain. Liyan, yang memahami keduanya, tetapi juga lebih dari sekedar gabungan dari dua elemen (yang saling berhadapan dalam konstruksi dualistik).

Merujuk pada gagasan Babha atas “third space”: “…what is theoritically innovative, and politically crucial, is the need to think beyond the narratives of originary and initial subjectives and to focus on those moments and processes that are produced in the articulation of cultural differences…

These ‘in-between’ spaces provide the terrain for elaborating strategies of selfhood –singular or communal—that initiate new signs of identity and innovative sites of collaboration, and contestation, in the act of defining the idea of society it self.”

(…yang inovatif secara teoritis, dan krusial seara politis, adalah kebutuhan untuk berfikir di luar narasi-narasi keaslian dan subjek-subjek asali, dan lebih memberi fokus pada momen-momen dan proses-proses yang tercipta dalam pengungkapan perbedaan-perbedaan kultural. Ruang ‘antara’ ini menyediakan suatu lapangan untuk menelusuri/menjelajahi strategi-strategi kedirian –tunggal maupun komunal—yang mengawali tanda-tanda identitas baru. Lapangan yang menjadi tempat berlangsungnya kolaborasi-kolaborasi inovatif, dan juga kontestasi, dalam suatu upaya merumuskan gagasan tentang masyarakat itu sendiri.)

Kenyataan-kenyataan ketiga itu, dalam proyek seni rupa ini, akan coba dilihat dilihat pada arsitektur bangunan atau penanda-penanda kota di Jawa semacam menara, tugu atau gapura.

Jompet Kuswidananto and Yudi Ahmad Tajudin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: