Kerangka Besar/Dasar

THIRD REALITY; Third Space/Third Identity/Third Body

“Whether we are attempting to deal with the increasing intervention of electronic media in our daily routines; seeking ways to act politically to deal with the growing problems of poverty, racism, sexual discrimination, and environmental degradation; or trying to understand the multiplying geopolitical conflicts around the globe, we are becoming increasingly aware that we are, and always have been, intrinsically spatial beings, active participants in the social construction of our embracing spatialities.”

(Edward W. Soja, Toward a New Consciousness of Space and Spatiality)

Penjelasan Terminologi dan Latar Belakang

Kenyataan ketiga adalah kenyataan hibrida. Kenyataan yang dibentuk (terbentuk) oleh percampuran atau gabungan dari banyak hal.

Kenyataan ketiga adalah kenyataan post-colonial/dunia ketiga/Indonesia yang penuh dengan kontradiksi, proses-proses nanggung (separuh jadi) yang membingungkan, hibrid dan liminal (berada di situasi antara –sudah bukan tapi juga belum).

Kenyataan ketiga adalah metafora, konsep, yang menghindar dari dan melampaui konstruksi dualisme dan penghadapan biner.

Paradigma (cara pandang) dibalik istilah ini menolak atau tidak menggunakan asumsi adanya kenyataan yang tunggal dan utuh atau yang asli dan asali (originary). Dunia sejak dulu sesungguhnya globalized, terhubung satu sama lain. Artinya setiap hal sesungguhnya, sejak dulu, merupakan hasil keterhubungan dan ketercampuran banyak hal itu. Bedanya dengan dunia kontemporer, –dengan teknologi komunikasi dan informasi yang sudah sedemikian massif, canggih dan seketika–, lebih pada keterhubungan dan keterkaitan hal-hal di dunia menjadi semakin tegas dan segera.

Konsep dan istilah ‘hibrida’ sejarah kemunculannya terkait dengan gerak wacana dan disiplin kajian-kajian pasca-koloni (post-colonial studies), yang merupakan reaksi pada, dan analisa atas, warisan kultural kolonialisme[i].

Meski pada awalnya istilah itu merujuk pada “penciptaan bentuk-bentuk yang lintas-budaya di dalam (within) wilayah kontak yang dihasilkan oleh penjajahan”, tetapi kenyataan-kenyataan hibrida sesungguhnya bisa dilihat tidak melulu dalam kaitannya dengan situasi penjajahan. Tetapi, jelas, ia terkait dengan kontak-kontak kebudayaan, baik yang terjadi sebelum maupun sesudah masa penjajahan.

Di sisi lain, sejarah kebudayaan Indonesia, sebagai negara ‘dunia ketiga’[ii] dan pernah terjajah, bisa dibaca seperti terus menerus berada dalam ‘situasi antara’ yang satu ke ‘situasi antara’ yang lain. Atau: ‘keadaan-perpindahan’ yang satu ke ‘keadaan-perpindahan’ yang lain; tradisional ke modern, pre-kolonial ke masa kolonial, masa kolonial ke pasca-kolonial; kebudayaan agraris ke industrial, era industrial ke post-industri (era informasi yang lebih menekankan pada produksi dan transaksi jasa), desa ke kota, rural ke urban; …

Meski sebagai suatu entitas kultural Indonesia tidak pernah tunggal, tetapi situasi antara dan keadaan perpindahan di atas seperti menjadi suatu kerangka besar yang melingkupi seluruh (sub)kultur yang ada di dalamnya dan menempatkan, atau menggerakkan, atau mengubah, atau membentuk, masing-masing sub-kultur tersebut.

Jawa, misalnya. Karena posisi geografisnya, Jawa sejak dulu menjadi titik persilangan antar benua. Karenanya, sejarah kebudayaan Jawa adalah sejarah sinkretism. Ketimbang melawan setiap kebudayaan dan agama yang datang, orang-orang jawa lebih memilih untuk menerima semua yang datang itu sebagai unsur-unsur yang diperlukan untuk membentuk sintesis baru. Ini adalah prinsip dasar, “sistem”, sinkretisme Jawa. Sistem ini kemudian menjadi tradisi masyarakat Jawa, serta bahan bakar peradabannya. Mesin kebudayaan Jawa.

Sinkretisme bisa dilihat sebagai suatu strategi untuk mendamaikan, memanipulasi dan melampaui kepercayaan-kepercayaan yang berbeda dan saling berlawanan. Melampaui konstruksi nilai ‘lama’ dan ‘baru’, ‘asli’ dan ‘asing’, tradisional dan modern… Hasilnya, dunia yang diciptakan oleh sinkretisme adalah dunia yang berisi lapisan-lapisan nilai dan kebudayaan yang beragam.

Kerangka Pertanyaan

Bagaimana kenyataan atau (identitas) subjek terbentuk ‘di antara’, atau sebagai akibat dari, perangkuman bagian-bagian yang berbeda? Bagaimana strategi-strategi representasi dan penyingkapan/pernyataan kenyataan-kenyataan ketiga di disusun dalam situasi di mana pertukaran nilai-nilai, makna dan prioritas yang berlangsung di sana kerap berlangsung tidak hanya dalam situasi kolaboratif dan dialogis, tetapi juga sering antagonistik secara mendasar, penuh konflik dan takterdamaikan?

Dalam menelusuri pertanyaan di atas, hal utama yang menjadi pijakan adalah, bahwa terma ‘kenyataan ketiga’, ‘ruang ketiga’ dan/atau ‘tubuh ketiga’, adalah metafora-metafora; istilah sementara serta lentur yang berupaya menangkap sesuatu yang sesungguhnya merupakan lingkungan gagasan, penampilan dan makna-makna yang terus menerus bergeser dan bergerak.

Penting bagi pemahaman atas metafora-metafora tersebut adalah kesadaran (insight) bahwa tidak hanya ada satu definisi atas tubuh dan identitas, melainkan sekumpulan pendekatan dan perspketif.

Metafora-metafora di atas, adalah suatu “ruang” di mana isu tentang asal-usul, keterpengaruhan dan identitas dapat dibicarakan secara bersamaan tanpa memenangkan satu dibanding yang lain; di mana seseorang bisa menjadi muslim dan jawa sekaligus, lokal dan global, modern dan tradisional, ber-disiplin dan lintasdisiplin pada saat yang sama. Metafora-metafora itu berakar pada kombinasi-kombinasi ulang dan perspektif-persepektif yang terbuka secara radikal.

Bukan suatu sikap yang memilih ‘satu menyingkirkan yang lain’, melainkan berada di dalam logika ‘keduanya’ atau ‘dan juga’.

Kerangka pandangan dan metafora-metafora itu adalah langkah awal yang diperlukan dalam mengubah logika dan kategori ‘satu menyingkirkan yang lain’ yang tertutup kepada logika ‘keduanya/dan juga’ yang terbuka secara dialektis.

Selalu ada yang lain, ‘liyan’; terma ketiga yang memutus, mengacaukan dan mulai menyusun ulang penghadapan-penghadapan biner ke dalam posisi lain. Liyan, yang memahami keduanya, tetapi juga lebih dari sekedar gabungan dari dua elemen (yang saling berhadapan dalam konstruksi dualistik).

Sebagai suatu konsep, dan kepercayaan, pada kasus Jawa, kenyataan ketiga menawarkan suatu pilihan kritis ‘yang-lain-ketimbang’ (other-than), yang berbicara dan melakukan kritik melalui posisi ke-lain-annya.

Yang ditawarkan konsep ini, merujuk pada Homi K. Babha dalam The Location of Culture: “…adalah juga kebutuhan untuk berfikir di luar narasi-narasi keaslian dan subjek-subjek asali, dan lebih memberi fokus pada momen-momen dan proses-proses yang tercipta dalam pengungkapan perbedaan-perbedaan kultural. Ruang ‘antara’ ini menyediakan suatu lapangan untuk menelusuri/menjelajahi strategi-strategi kedirian –tunggal maupun komunal—yang mengawali tanda-tanda identitas baru. Lapangan yang menjadi tempat berlangsungnya kolaborasi-kolaborasi inovatif, dan juga kontestasi, dalam suatu upaya merumuskan gagasan tentang masyarakat itu sendiri.”

Formulasi, Aplikasi dan Operasi

Jelas terlihat konsep ini menghadapi/menyikapi posisi atau keadaan (ter)hibrida BUKAN sebagai suatu kegagalan atau situasi yang tidak menguntungkan, tetapi sebagai ‘momen-momen dan proses-proses yang tercipta dalam pengungkapan perbedaan-perbedaan kultural’. Suatu bagian dari jalinan kebudayaan-kebudayaan yang saling bersaing, dan terus menerus mengubah serta membentuk kenyataan-kenyataan. Ringkasnya: melihat kenyataan hibrida sebagai suatu “kenyataan” itu sendiri, dan tidak menyusun suatu bayangan/ide/ilusi tentang dunia atau identitas yang utuh (tidak pecah), tunggal dan murni. Karena kenyataan (terutama kenyataan kontemporer di dunia ketiga) sesungguhnya selalu berada dalam bentuk yang jamak serta berlapis.

Dalam kerangka yang sama, pengertian “kenyataan ketiga” di atas juga menurunkan pengertian atas “identitas ketiga” atau “tubuh ketiga”.

Juga “ruang ketiga”; ruang tempat berjajar dan berlangsungnya hal-hal yang sejarah dan asal-usul dan sumbernya berbeda, yang mungkin saling bertentangan, tetapi kemudian “hidup” bersama; bekerja sama, saling mengapropriasi, berkontestasi, bergesekan dan pecah (di dalam dan melalui konflik), terus menerus bernegosiasi, dan berubah; terubah oleh serta mengubah yang lain.

Dan di dalam dunia yang berisi serangkaian lapisan kepercayaan serta nilai itu, sedikit banyak, pastilah mempengaruhi (kalau tidak membentuk) identitas individu maupun kolektif atau tubuh-tubuh yang berada di dalamnya.

Karenanya proyek teater “Tubuh Ketiga” adalah ihwal identitas dan tubuh-tubuh yang tercipta di dalam situasi “antara” dan keadaan perpindahan itu. Ihwal identitas/tubuh liminal –yang berada di antara yang dikenang (telah ditinggalkan) dan yang diangankan (ingin atau belum dicapai). Ihwal identitas/tubuh hibrid yang tersusun dari lapis-lapis kebudayaan yang beragam, yang saling bersaing, dan terus menerus mengubah serta membentuk kenyataan-kenyataan yang berada di antaranya.

Praktik penciptaan dan kajian ini, juga dilakukan dalam suatu semangat untuk untuk melakukan kritik diri (self-critics). Karena kenyataan, identitas dan tubuh “ketiga” yang disebut di sepanjang tulisan ini adalah juga kenyataan, identifikasi serta tubuh-tubuh kami yang melakukan proyek ini. Kenyataan/identitas/tubuh yang tercipta di dalam relasi dan pertukaran nilai serta kebudayaan, dalam ruang ketiga kerap, yang kerap berlangsung dalam ketegangan dan konflik yang keras. Lapis-lapis nilai serta kebudayaan yang menyusun kenyataan/identitas/tubuh ketiga tidak selalu berlangsung dalam proses yang kolaboratif dan dialogis, tetapi juga kerap berlangsung secara antagonistik, penuh konflik dan takterdamaikan.

Dan, sebagaimana yang dilontarkan Babha: “And by exploring this ‘Third Space’, we may elude the politics of polarity and emerge as the others of ourselves.”

Yudi Ahmad Tajudin


[i] Watak kritis dari teori-teori postcolonial berkaitan dengan upaya mengguncang cara berfikir Barat (Dunia Pertama), dengan tujuan menciptakan ruang bagi ‘subaltern’, atau kelompok-kelompok terpinggirkan (yang tidak punya ‘suara’ dan akses pada kuasa), untuk bersuara dan menciptakan alternatif atas wacana-wacana dominan.

[ii] Tentang istilah ‘dunia ketiga’, artikel wikipedia menulis ini:

“French demographer, anthropologist and historian Alfred Saufy, in an article published in the French magazine L’Observateur , August 14, 1952, coined the term Third World, referring to countries particularly in the Middle East, South Asia, Central and SOuth America, Africa, and Oceania, that were unaligned with either the Communist Soviet bloc or the Capitalist NATO bloc during the Cold War. His usage was a reference to the Third Estate , the commoners of France who, before and during the French Revolution, opposed priests and nobles who composed the First Estate  and Second Estate. Sauvy wrote, “Like the third estate, the Third World has nothing, and wants to be something,” He conveyed the concept of political non-alignment with either the capitalist or communist bloc.

The growing use of the term Third World led to a growing sense of solidarity among the nations of the so-called Third World to unite against interference from either major bloc. In 1955, leaders of 29 countries from Asia and Africa met at the Bandung COnference to discuss cooperation. The First Prime Minister of India, Jawaharlal Nehru, notably said:

“I have no doubt that an equally able disposition could be made on the part of the other bloc. I belong to neither [the First or Second World] and I propose to belong to neither whatever happens in the world. If we have to stand alone, we will stand by ourselves, whatever happens… We do not agree with the communist teachings, we do not agree with the anti-communist teachings, because they are both based on wrong principles.”

The Third World is the majority of national powers on the planet. These countries represent a modern society, but in the process of potential development as recognized continental representatives of the world community today. The majority among this group, comprises of many moderately wealthy, but militarily effective governments. To include to this, many Third World nations (especially in Africa), are affected drastically by political problems, or bad geographical conditions, such as droughts and non-fertile soil. These problems are not the least of it in some Third World countries. Famines, shortages, regional wars, and etc., have all caused much instability and no hopes of restoration in the public in Third World nations.

Today, the First World, and the Second World, come forth to bring aid and civil support to bring about strong foreign relations, and bring them into any of their collective orbits’. Superpowers, whether asked or self-intended, charitably feed their resources and benefacted commodities to these types of Third World powers, ostensibly as a form of idealistic friendship, though the financial institutions through which this “friendship” is extended (e.g., the IMF and World Bank) have been heavily criticized for creating, rather than alleviating, poverty and economic dependence. Many members of the Third World state of national powers, are of course nonaligned with any global significance (like the United States of America ), and squander on their various economic or political concerns in regional affairs.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: