Percakapan dengan Aas Rolani

Hj. Aas Rolani

(Pimpinan Gamelor Hj. Aas Rolani, Bulaklor)

30 Maret 2010

Hj. Aas Rolani tengah bersiap untuk pengambilan gambar video klip terbarunya ketika kami datang menyambangi rumahnya. Aas menyambut kedatangan kami di ruang tamunya yang cukup mewah dan tertata. Beberapa foto dirinya terpampang di dinding. Ada juga foto keluarga. Yang cukup menonjol adalah foto dua bapak-bapak berpakaian polisi lengkap dengan seluruh bintang kepangkatannya. Di almari terdapat beberapa piala dan setumpuk buku tafsir Al Qur’an. Di sudut, sebagaimana di ruang tamu penyanyi Eka, terdapat semacam meja kantor. Mungkin untuk mengurusi agenda pemanggungan. Aas mengenakan pakaian muslim. Wajahnya berpoles make-up lumayan tebal. Diawali dengan penjelasan dari Mbak Wangi tentang maksud kedatangan kami percakapan pun mengalir selama kurang lebih 1,5 jam di sela-sela persiapan pengambilan gambar.

Bagi Aas tarling dangdut dengan organ tunggal sama saja. Lagunya sama. Arahnya juga ke sana-sana juga, katanya. Bedanya hanya di tekhnis: organ tunggal sudah terpogram musiknya, sedangkan tarling menggunakan musik hidup. Tapi dalam perkembangannya organ tunggal menambahkan lagi beberapa elemen musik pendukung macam gitar, seruling, terompet dan lain sebagainya. Organ tunggal yang benar-benar tunggal, hanya organ saja, masih tetap ada dalam perayan-perayaan yang sederhana. Biasanya lesehan, kata Aas. Tapi jumlahnya tak banyak. Sudah ketinggalan jaman, tambah Aas. Sekarang kelompok organ sudah melengkapi elemen-elemen musiknya. Aas sendiri menyebut grupnya dengan nama Gamelor kependekan dari gamelan organ. Jadi hampir mirip dengan campur sari di Jawa karena menggunakan gamelan juga. Lagu-lagu yang biasa dibawakan adalah lagu Cirebon atau Dermayu populer. Bukan lagu-lagu klasik, imbuhnya.

Sebagaimana Eka, Aas berasal dari keluarga seniman. Ibunya adalah seorang sinden. Dan bapaknya adalah gitaris tarling. Suaminya, H. Khisol Radisah juga berasal dari keluarga seniman. Aas memilih jalur kesenian ini karena menurutnya lebih mudah, tak perlu berlama-lama latihan sebagaimana dalam musik klasik. Belum sempat belajar klasik sudah terlanjur dikenal (namanya), Mbak, katanya. jadi kalau mau balik ke klasik agak males belajarnya. Sebenarnya bukan males, tapi tidak ada banyak waktu. Mulai menyanyi sejak kecil. Tapi namanya mulai dikenal sekitar tahun 2000-an lewat lagunya Mabok Bae[i].

Di luar kegiatan manggung jadwal kegiatan Aas sendiri tampaknya cukup padat. Sebagaimana yang tengah kami lihat, saat itu ia tengah bersiap untuk proses pengambilan gambar video klipnya yang terbaru. Malamnya ia mengatakankan ada jadwal acara di TV Cirebon. Musim panen kali ini Gamelor Aas Rolani akan mulai manggung pada tanggal 13 April 2010. Untuk jadwal komplitnya ia meminta kami untuk menghubungi sekertarinya, Pak Pardi.

Sebagai seorang Hajah, Aas tetap menggunakan busana muslim dalam tiap pertunjukannya. Ia tidak mau menggunakan busana yang seronok dan menonjolkan aurat. Dan ia sama sekali tak merasa terganggu dengan hal itu. Malah bangga. Di Indramayu belum ada yang seperti saya, katanya. meski belakangan dia bilang banyak penyanyi yang kemudian meniru model berpakaiannya. Bahkan ia dimintai saran oleh penyanyi lain dalam hal memilih pakaian muslim. Berdasar pengakuannya ia tak meniatkan memakai busana semacam itu. Bahkan sehabis naik haji (tahun 2005) Aas masih mengenakan busana penyanyi dangdut sebagaimana lazimnya. Tapi kemudian banyak masukan datang dari keluarganya, juga dari banyak orang untuk menggunakan pakaian yang lebih tertutup. Masak sudah haji masih seperti itu, katanya. padahal sebenarnya ia juga tak pernah menggunakan pakaian seksi seperti pedangdut lainnya. Ia mengenakan pakaian model India. Pun demikian ia tetap menerima kritik mengenai cara berpakaiannya. Akhirnya ia mengikuti saran tersebut. Demi keluarga, bukan demi penggemar, tegasnya. Akhirnya penggemar pun juga menyukainya. Ya, sudah, diterusin saja. Di Makkah pun ia sempat berdoa, jika diijinkan tetap berkarir di dunia hiburan ia ingin menjadi penghibur yang baik. Memberikan tontonan dan tuntunan sekaligus. Dan dia pun mendapat penghargaan dari Bupati Indramayu sebagai artis daerah dengan busana tertutup.

Ketika ditanya bagaimana dengan penampilan atau goyangnya ketika menyanyi Aas cuma tertawa. Dari dulu mah saya biasa saja. Jadi tidak ada yang berubah. jadi jogetnya standart saja. tidak gimana-gimana gitu. Ia juga mengungkapkan bagaimana orang tuanya dalam mendidiknya sebagai seniman. Yang pertama adalah suara dulu, tegasnya. Saweran juga terus jalan meski dia berpenampilan seperti itu. Sudah tradisi, katanya. dan selama ini tak ada penyawer yang nakal atau mengganggunya. Mungkin mereka segan karena saya seorang pimpinan. Jadi kalau mau nyawer juga pakai duit yang gedhe.

Saat ini Aas bersama suaminya sedang berkonsentrasi membangun rumah produksi sendiri yang diberinya nama RE Production. RE singkatan dari Rolani Electone. Ia lepas kontrak dari Mahkota Record sejak tahun lalu. Dan memilih untuk membikin sendiri album-albumnya. Saat ini ia sudah berhasil membuat dua album dengan label barunya. Ia menunjukkan dan memberi kami salah satu album terbarunya dengan RE Production. Album pertamanya bersama Mahkota Record ia luncurkan pertama kali pada tahun 1997. Namun baru terikat kontrak dengan Mahkota pada tahun 2000 lewat album Mabok Bae. Setidaknya ia telah mempunyai 13 album bersama Mahkota sampai kemudian putus kontrak pada tahun 2007. Beberapa album yang maih ia ingat judulnya di antaranya adalah: Ganjen, Pengen Sing Gedhe, Mabok Bae, Kabar Burung, Manuk Ketilang, Sepanggung Loroan, Gelem Diwayuh, Kelara-lara, Pengen Klakon. Rata-rata setiap 6 bulan sekali ia mengeluarkan album baru. Pemilihan lagunya berada di tangan produsernya, meski Aas dan suaminya juga ikut mencari lagu-lagu yang dirasanya pas. Aas juga pernah mengeluarkan sebuah album lagu religi yang bertajuk Limang Perkara. Berdasar pengakuannya penjualan album religi tidak selaku album-album biasanya. Dan Mabok Bae adalah albumnya yang paling laku keras.

Aas Rolani bukanlah nama aslinya. Aas adalah nama panggilannya. Lengkapnya Asiah. Rolani diambil dari nama anaknya: Rolani Agustyn. Anaknya juga penyanyi, tetapi bukan penyanyi dangdut. Ia grup band, kata ibunya.

Semenjak menjadi seorang penyanyi tenar kehidupan sosialnya mulai berubah. Ia harus menjaga ketat penampilannya. Ia mencontohkan mengenai kegemarannya makan di warung tenda Lamongan. Sekarang kalau mau makan di sana ia harus melihat-lihat dulu apakah warung tersebut sepi atau tidak. Soalnya meskipun namanya sudah dikenal di mana-mana, ia tetap tak terbiasa makan di restoran-restoran berkelas. Namanya juga rakyat jelata, katanya. Jadi biasanya ia memilih warung-warung yang sepi agar tidak menjadi bahan pergunjingan orang.

Namanya mulai menanjak naik pada album keduanya Pengen Sing Gedhe[ii] pada tahun 1999. Dan albumnya Mabok Bae (2000) booming pada tahun 2001. Di tahun tersebut tawaran untuk manggung meningkat drastis. Ia dikontrak EO untuk manggung di banyak kota di Indonesia. Ia juga mendapatkan Anugrah Dangdut TPI untuk katagori penyanya etnik pada tahun 2002. Mengalahkan Didi Kempot dan Nunung Alvi yang juga masuk nominasi bersamanya. Aas mengawali karirnya di dunia rekaman lewat jaringan suaminya—yang adalah pemain organ. Dan akhirnya bisa rekaman di Mahkota. Awalnya malah mau dengan Musica. Tetapi karena tidak ada lagu yang bagus dan pas dengan karakter suaranya akhirnya ia berjodoh dengan Mahkota. Sebelum masuk dunia rekaman Aas hanya manggung dari satu kelompok tarling dangdut ke kelompok yang lain.

Ketika ditanya tentang foto bapak-bapak berbaju polisi di dinding ruang tamunya Aas menjawab dengan malu-malu. Hanya teman, katanya. masih ada hubungan keluarga juga. Sedang foto polisi sebelh bawahnya adalah salah satu penggemarnya. Sering sekeluarga datang ke Indramayu untuk bertemu dengan saya, jelas Aas.

Seperti kelompok Ekawati, setiap kali manggung Aas membawa 6 penyanyi. Aas membebaskan para penyanyi dalam berpakaian. Yang penting sopan saja. Gak harus pakai kerudung. Asal sopan saja, katanya. Ada juga penyanyi yang bandel. Tapi lama-lama malu sendiri kok, tambahnya. Aas juga santai saja dalam menghadapi penjoget-penjoget yang mabuk. Namanya juga dangdut, 30 persen pastilah ada yang mabuk. Aas juga tak terlalu berharap banyak pada saweran. Tergantung daerahnya juga. Bisa banyak bisa sedikit.

Selain menyanyi Aas juga menjadi produser dan bintang sinetron daerah. Produksinya ditayangkan di TV Cirebon dengan judul “Kidung Asmara”. Baru tayang 2 episode, katanya. Sehabis itu rencananya dia akan mengedarkan CD-nya terlebih dulu. Ia juga membuat produksi serupa untuk Dian TV, TV lokal Indramayu. Sinetron yang dipersiapkannya tersebut berjudul “Anak Kampung”.

Untuk produksi albumnya Aas tidak menggunakan distributor biasa. Ia memilih membawa sendiri albumnya dari panggung ke panggung dan menjualnya di sana. Lebih lakudi panggung, ujarnya, bisa laku 250 keping tiap kali manggung. Album pertamanya dengan RE Production katanya sudah laku 6000 keping, padahal belum genap satu tahun diluncurkan. Untuk proses rekaman Aas dan artis-artis Indramayu yang lain sudah tak perlu lagi ke Jakarta. Hanya untuk proses penggandaan dan pengemasan CD Aas masih perlu ke Jakarta. Di sini belum ada yang bisa nyetak bagus, katanya.

Ketika ditanya mengenai pengalaman terburuknya selama menjadi penyanyi organ Aas cuma ketawa. Paling buruk ya kalau gak ada tanggapan, katanya sambil terbahak. Ia tak pernah mengalami pengalaman yang buruk ketika berada di atas panggung. Saya kan orangnya suka bercanda. Jadi santai saja menghadapi segala macam kelakuan penyawer di atas panggung. Musim ramai tanggapan adalah di musim panen, katanya kemudian. Meski bukan petani, tapi kehidupan saya mengikuti pola kehidupan petani. Karena merekalah yang menanggap saya. Kalau panen bagus ya saya juga ikut bagus. Kalau panen gagal ya ikutan apes. Mau bayar pakai apa mereka.

Mengenai harapannya yang belum kesampaian, Aas hanya bilang bahwa ia pingin naik haji lagi. Tetapi lengkap bersama anak-anaknya.

Akhirnya percakapan pun terhenti di sini karena Aas harus segera bersiap untuk pengambilan gambar. Kami sempat melihat dia make-up di ruang tengah. Sedangkan pengambilan gambarnya kami tak sempat melihat karena lokasi nerada di dalam kamar.


[i] Aduh pusing kang duh aduh pusing (Aduh pusing kang duh aduh pusing)

Pusing tujuh keliling (Pusing tujuh keliling)

Rumah tangga langka senenge /(Hidup berumah tangga tak ada senangny)a

Sampeane mabok bae (Kamu hanya mabuk saja)

Coba mikir kang dipikir dingin (Coba mikir kang dipikir dulu)

Apa kakang bli isin (Apa kakang tidak malu)

Wong mekarya langka luwihe (Bekerja tak ada penghasilan lebih)

Saben dina mabok bae (Setiap hari mabuk saja)

Kudu inget ning masa depan (Harus ingat kepada masa depan)

Aja nuruti napsu setan (Jangan menuruti nafsu setan)

Inum-inuman mabok-mabokan (Minum-minuman mabuk-mabukan)

Ngrusak ning badan (Merusak badan)

Masih mending mabuk dunya (Masih mending mabuk dunia)

Bisa nyukupi keluarga (Bisa mencukupi keluarga)

Aja maboke mabuk minuman (Jangan mabuk minuman)

Bisa berantakan (Bisa berantakan)

[ii] Bli keberatan yen kakang (Saya tidak keberatan jika kakang)

Seneng ning kula (Suka sama saya)

Kula nerima (Saya terima)

Kabeneran kula wis rangda (Kebetulan saya sudah janda)

Nanging jalukan duh kakang (Tapi saya ada permintaan)

Siji syarate (Satu syaratnya)

Pengen sing gedhe (Ingin yang besar)

Sing gedhe kasih sayange (Besar kasih sayangnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: