Catatan Riset 1 Indramayu

Perihal Organ Tunggal (Ortung)

Organ Tunggal di Indramayu jauh dari yang saya bayangkan. Semula saya membayangkan organ tunggal adalah pertunjukan dangdut dengan hanya menggunakan organ sebagai satu-satunya alat musik. Sebagaimana pernah saya lihat di Perbaungan Sumatera Utara atau dalam hajatan-hajatan perkawinan di Jogja. Organ Tunggal di Indramayu tak ubahnya sebuah orkes dangdut lengkap. Ada kendang, gitar, bas, seruling, tamborin, drum selain organ. “Organ tunggal sudah ketinggalan jaman,” ungkap Aas Rolani, salah seorang penyanyi dan pimpinan grup organ. Ia bahkan menyebut kelompoknya Gamelor, singkatan dari Gamelan Organ. “Setiap tahun harus ada penambahan.” Eka, pimpinan organ dangdut Ekawati,  menjelaskan bagaimana  ketatnya persaingan kelompok organ di Indramayu memicu organ tunggal terus tumbuh dan berkembang hingga mencapai bentuknya yang sekarang. “Tapi organ tunggal yang benar-benar tunggal masih ada. Di beberapa hajatan yang sederhana.” Kata Wangi Indriya, seorang dalang dan penari topeng Indramayu.

Sejak kapan organ tunggal dangdut muncul di Indramayu, tak ada angka tahun yang pasti. Dari sejumlah narasumber yang sempat kami datangi hampir semua menyebutkan awal atau pertengan 90-an. Eka mendirikan grupnya tahun 1995, sementara menurut pengakuaannya Aas Rolani mendirikan grupnya setahun lebih dahulu. Jadi kurang lebih 1994 kelompok Aas mulai berdiri. Pada kurun waktu yang sama Campursari juga mulai tumbuh di Jogja, tepatnya di Wonosari Gunung Kidul. Campursari adalah bentuk perpaduan organ dengan gamelan Jawa.

Tentu saja organ tunggal dangdut atau campursari atau kendang-kempul di Banyuwangi tak ujug-ujug muncul begitu saja. Organ tunggal dangdut di Indramayu tak ubahnya adalah tranformasi musik tarling. Tarling merupakan kesenian khas dari wilayah pesisir timur laut Jawa Barat (Indramayu-Cirebon dan sekitarnya). Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama “tarling” diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar akuistik dan suling. Selain kedua instrumen ini, terdapat pula sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong. Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara “Irama Kota Udang”, dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan “tarling” dan mulai masuk unsur-unsur drama. Semenjak meluasnya popularitas dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling dicampur dengan perangkat musik elektronik sehingga terbentuk grup-grup organ tunggal.

Campursari di Jawa juga mengalami perkembangan yang tak berbeda. Di tahun 80-an desakan musik dangdut memaksa Ki Narto Sabdo, seorang dalang dan komposer gamelan, memainkan lagu-lagu berirama musik dangdut dengan gamelan Jawa. Tembang-tembang kreasi baru mulai tercipta (Gambang Suling, Prau layar dan lain-lain). Dan pada perkembangannya alat-alat musik modern (gitar, organ, drum) mulai masuk di tahun 90-an. Mirip. Dan berlangsung di waktu yang hampir sama.

Awal tahun 90-an memang menjadi akhir dari kehidupan kesenian tradisonal di banyak tempat di Jawa. Kelompok-kelompok kesenian tradisional banyak yang terpaksa harus gulung tikar di akhir 80-an dan awal 90-an. Beberapa yang bisa dicatat adalah bubarnya kelompok Wayang Orang Ngesti Pandhawa di Semarang dan Siswo Budhaya di Tulung Agung. Dua kelompok kesenian Jawa yang cukup besar itu harus berakhir karena alasan ekonomi dan kehilangan penontonnya. Hal yang sama juga menimpa banyak kelompok yang lain, bahkan Srimulat yang sudah sedemikian menasional. Srimulat kehilangan panggungnya terakhirnya di Surakarta, setelah sebelumnya menutup pertunjukannya di Jakarta dan Surabaya. Ketoprak RRI Nusantara II Yogyakarta juga harus mengurangi jadwal pertunjukan rutinnya. Wayang Orang Sriwedari di Surakarta juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Hal yang sama tampaknya juga menimpa tarling dan sandiwara di Cirebon dan Indramayu.

Barangkali situasi seperti tersebut di atas berhubungan dengan maraknya TV swasta nasional di tahun-tahun tersebut. Atau mungkin masyarakat penonton kesenian-kesenian tersebut sudah berubah. Generasi telah berganti. Dan mereka membutuhkan tontonan yang lebih sesuai dengan jaman mereka. Mungkin saja. Dibutuhkan perhatian yang lebih mendalam untuk mengurai situasi di tahun-tahun tersebut. Tetapi tepat pada saat itulah kemudian muncul kesenian-kesenian gaya baru, yang sejatinya adalah perubahan bentuk dari kesenian yang sudah ada sebelumnya. Di Yogya muncul Ketoprak Plesetan dan grup-grup Campursari, di Jakarta muncul Ketoprak Humor dan Lenong Rumpi, di Jawa Timur bermunculan kelompok Ludruk Humor, di Banyuwangi Kendang Kempul mulai memasukkan isntrumen-instrumen modern dan di Indramayu muncul Organ Tunggal yang merupakan metamorfosa dari Tarling Dangdut.

Kelompok Organ Tunggal di Indramayu tumbuh bagai jamur di musim penghujan, demikian diistilahkan oleh Wangi Indriya. Hal tersebut diiyakan oleh Eka. Tiap desa punya kelompok organ, katanya. Tak hanya satu kelompok, bisa-bisa sebuah desa memiliki lebih dari 5 kelompok. Belum lagi ketambahan dengan kelompok-kelompok Singa Depok yang juga mulai merambah orkes organ juga. Singa Depok adalah jenis kesenian sisingaan yang biasa digunakan untuk mengarak pengantin sunat atau adat rasulan. Siang hari mereka singa depokan lalu dilanjut dengan dengan musik dangdut.

Satu kelompok organ setidaknya melibatkan 30-50 orang personel dalam setiap pertunjukannya meliputi penyanyi (biasanya 6 orang, pembawa acara, pemusik (organ, tamborin, kendang, terompet, gitar, bas), penata suara, pekerja panggung dan pengemudi. Sebuah kelompok organ yang besar dan terkenal memiliki alat-alatnya sendiri dari alat-alat musik, panggung, dekorasi, sound system berikut truk pengangkutnya. Mirip dengan kelompok ketoprak tobong yang main dengan berpindah-pindah tempat. Sedangkan kelompok-kelompok kecil atau kelompok yang baru merintis jalan harus menyewa seluruh peralatan jika mereka mendapat tanggapan. “Di sini kadang sebuah kelompok hanya punya nama saja. Seluruh alat-alatnya bisa nyewa,” jelas Santi Revaldi, salah seorang penyanyi organ freelance (tidak berkelompok) yang sempat kami temui. Tarif panggung mereka juga cukup beragam.  Kelompok-kelompok tenar macam Hj. Aas Rolani, Ekawati dan Dewi Kirana mematok tarif 8 – 10 juta rupiah untuk pertunjukan di dareah Indramayu. Untuk pertunjukan luar kota tarifnya menyesuaikan dengan jarak tempuh mereka. Sebagai contoh Aas mematok harga 22 juta rupiah untuk pertunjukan di Banten.

Di samping menyanyi di panggung, para peyanyi juga masuk ke dunia rekaman. Aas misalnya, ia mengikat kontrak dengan Mahkota Record selama hampir 7 tahun (2000 – 2007) dan kemudian memiliki perusahaan rekaman sendiri yang diberi nama RE Production (Rolani Electone Production). Bersama Mahkota record Aas telah memiliki sedikitnya 14 album. “Dalam 6 bulan lahir satu album baru,” katanya. Eka menjalin kontrak dengan MT Record dan meluncurkan 5 album. Ribuan kaset dan keping CD telah beredar di pasaran. Album Eka yang berjudul “Asal Sing Kuat” misalnya, telah laku kurang lebih 10 ribu kaset dalam waktu 3 tahun. CD terbaru dari Aas laku terjual 6 ribu keping dari panggung ke panggung kurang dari satu tahun. Sebuah jumlah yang cukup fantastis untuk ukuran seniman daerah. Hal yang sama juga terjadi pada album Didi Kempot dan Manthous di Jawa Tengah dan Jogja. Album-album mereka laku puluhan ribu keping. Hal mana sempat membuat heboh perusahaan-perusahaan rekaman di Jakarta waktu itu. Hitungan tersebut tentu akan bertambah berkali-kali lipat jika ditambah dengan penjualan CD bajakan yang beredar di pasaran.

“Sekarang semua penyanyi bisa memiliki album sendiri,” kata Eka. Karena studio-studio rekaman mulai bermunculan di Indramayu. Dengan modal 5 juta rupiah seorang penyanyi bisa memiliki album sendiri, tambahnya. Situasi ini berbeda dengan 10 tahun yang lalu, di mana seorang penyanyi harus menumpuk modal cukup lama untuk bisa digaet seorang produser rekaman dan dibawa rekaman ke Jakarta. “Dulu bisa habis 25 juta untuk satu album,” ujar Eka.

Hidup di Atas Musim Panen

Kelompak organ tunggal sangat tergantung hidupnya dari musim panen. Di musim itulah mereka banyak mendapat panggilan manggung. Perayaan-perayaan, dari pesta panen, pernikahan, khitanan, rasulan semua menumpuk di musim panen. “Meski saya bukan petani tetapi rejeki saya mengikuti alur petani.” Ungkap Aas. Sebenarnya bukan hanya organ tunggal yang mendapat banyak tawaran main di musim panen. Tetapi juga semua jenis kesenian yang lain.

“Di musim panen banyak sekali hiburan.” Kata Wahyudin, seorang petani yang sempat saya temui di Ngglayem. “Adanya uang ya di musim panen.” Tambahnya. Maka tak heran di musim itulah biasa para petani maupun nelayan melangsungkan hajatannya. Dari menyunatkan sampai mengawinkan anak.

Tak hanya orang kaya, keluarga yang tak cukup berada pun bisa membuat pesta. Tradisi nyumbang di Indramayu sangat kuat dan ketat. Jika tak datang menyumbang pada sebuah hajatan ia akan menjadi buah bibir lingkungan sekitarnya. Seluruh jumlah sumbangan dan nama penyumbang juga tercatat dengan jelas. Dan seseorang yang punya hajat berhak menagih sumbangan pada seseorang jika jumlahnya kurang dari yang ia berikan sewaktu dulu seseorang tersebut punya hajat. Seperti sebuah arisan. Dan dengan cara itulah pesta hajatan terus berlangsung.

“Di luar musim panen saya nganggur saja di rumah.” Kata Santi. Sementara suaminya yang juga pemain organ memilih menjadi buruh tani atau buruh bangunan di musim sepi tanggapan. Lain halnya dengan Eka. Ia tetap bisa menyanyi karena memiliki pekerjaan tetap di diskotik. Meski hanya bergaji 30 ribu rupiah, Eka bisa mendapat lebih banyak uang dari para penjoget yang menyawer. Katanya ia bisa mendapatkan 200 – 300 ribu rupiah per malam dari saweran. “Kalau tidak ada yang nyawer gak seru,” kata Santi. “Selain penghasilan berkurang penyanyi juga jadi gak semangat!”

Menyawer juga sebuah tradisi lama dalam pertunjukan tradisional di banyak tempat di Indonesia. Bentuknya bisa berbeda-beda. Tapi intinya sama: memberi hadiah pada seniman pujaannya. Menyawer adalah bentuk keterlibatan langsung seorang penonton. Dan di pertunjukan organ dangdut saweran mendapat ruang yang sangat besar. Seorang penonton boleh naik ke atas panggung untuk menyawer penyanyi (bandingkan dengan pertunjukan tradisional di Jawa pedalaman di mana penonton hanya bisa melempar hadiahnya dari bawah panggung). Dan setiap kali seorang penonton menyawer penyanyi akan menyebut namanya keras-keras. Hal ini akan membuat penonton yang lain berebut menyawer agar juga disebut namanya. Seorang penyanyi organ dituntut untuk bisa merayu penonton agar terus menyawernya. Mereka memuji-muji penonton agar mau menyawernya. Mereka memanggil nama penonton yang dirasa memiliki uang besar dengan beragam cara seperti Bos Beras, Bos Rajungan, Sing Duwe Bondan (nama tempat), Sing Duwe Jakarta dan sebagainya. Dan para penonton sepertinya sangat menikmati ketika namanya disebut. Mereka seperti mendapat panggung untuk tampil di masyarakatnya. Seperti botol bertemu tutup: penyanyi membutuh saweran, penyawer membutuhkan panggung untuk tampil.

Jumlah saweran yang didapat pemain organ berbeda-beda dalam setiap pemanggunganya. “Tergantung daerahnya.” Kata Santi. Jika daerah di mana dia tampil adalah daerah yang cukup makmur maka jumlah sawerannya akan besar. “Semua mendapat bagian saweran. Petugas sound juga dapat,” tambah Santi.

Lagu-lagu Organ Tunggal

Secara umum lagu-lagu dangdut Indramayu yang dinyanyikan di atas panggung maupun dalam album-album yang mereka keluarkan adalah lagu-lagu yang berbicara tentang kesedihan, kegagalan, perpisahan. Bertema cinta dan keluarga. Simak saja judul-judulnya: Kelingan Bae[i], Tetes Banyu Mata[ii], Mabuk Bae[iii], Mabuk Sinden[iv], Pengen Sarung[v], Pengen Sing Gedhe[vi], Rangda Angetan[vii], Rangda Kaya[viii], Rangda Cilik[ix], Rangda Sementara[x], Rangda Sengketa[xi], Nunggu Rangdane[xii], Nunggu Dudane[xiii], Duda Anyaran[xiv]Atau nostalgia sebuah tempat: Bendungan Bolang[xv], Bendungan Karet[xvi], Stanplat Celeng[xvii], Pertelon Widasari[xviii], Pertelon Jatibarang[xix], Bandara Soekarno Hatta[xx] dan lain sebagainya.

Yang menarik adalah meskipun syair-syairnya berbicara tentang kesedihan namun mereka melagukannya dengan ringan dan riang. Kesedihan tiba-tiba saja menjadi sesuatu yang asing dan aneh. Mereka seperti menari di atas kesedihan mereka sendiri. “Orang-orang butuh hiburan. Capek kerja. Jadi mereka senang kalau ada hiburan.” Kata Adi, suami Santi Revaldi. “Saya senang kalau penonton terhibur,” tambah Santi. Ada semacam ketegangan antara apa yang disampaikan (isi lagu) dengan cara menyampaikannya, yang justru membuat kesedihan di sana terasa lebih tajam karena muncul dalam paradoks.

“Syair-syairnya bercerita tentang kehidupan sehari-hari.” Jelas Bambang, seorang dalang macapatan. “Bukan syair-syair klasik seperti dalam tarling atau macapat.” Syair-syair lagu dangdut Dermayon terasa sangat lugas dan apa adanya. Sering pula nyerempet-nyerempet ke hal-hal yang berbau seks seperti: Pengen Sing Gedhe[xxi], Jaluk Sing Dawa[xxii], Asal Sing Kuat[xxiii], Isep-isep Tebu[xxiv], Bisa Dicoba, Aja Dicopot, Bokong Gatel. Judul-judul tersebut memang menggoda. Tapi jika ditelisik ke isi lagunya sama sekali tak ada yang porno di sana. Benar-benar hanya guyonan yang nyerempet-nyerempet saja. Pengen Sing Gedhe misalnya, yang dimaksud di sana adalah gedhe kasih sayange. Jaluk sing dawa adalah jaluk sing dawa pikire.

Mereka juga sangat lugas berbicara tentang keretakan rumah tangga: Cukup Setaun Bae, Ki Buyut Tambi, Talak Telu, Aja Marek Maning. Cukup banyak juga lagu yang mengangkat tema janda dan duda (Rangda Pantura, Rangda Angetan, Rangda Kaya, Rangda Cilik, Rangda Sementara, Rangda Sengketa, Nunggu Rangdane, Nunggu Dudane, Duda Anyaran). Tak ada perasaan malu, jaim atau menutupi kegagalan rumah tangga. Berbeda halnya dengan tabiat orang Jawa di pedalaman yang masih malu-malu dalam membuka keretakan rumah tangganya meski hanya lewat sebuah lagu. Sangat sedikit lagu Jawa campursari yang mengangkat tema janda: Randa Kempling karya Manthous. Perkara kawin lagi juga menjadi tema yang tak kalah hangat: Bojo Loro, Emong Diwayu, Kawin Kyai. Kawin-cerai tampaknya menjadi suatu hal yang lumrah di Indramayu. Semua lagu tersebut ditulis dalam bahasa Dermayon. Beberapa di antaranya dicampur-campur dengan bahasa Indonesia. Istilah-istilah terbaru juga bermunculan seperti dalam lagu Gokil Abiez, ABG Tua, SMS, Salah Sambung, Jablay.

Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh perempuan juga banyak mewarnai lagu-lagu tarling dangdut:  Nambang DawaAwak AbangCukup SetahunGaret BumiMabok Bae. Lagu “Ketuwon” ciptaan Amin Hermawan yang dinyanyikan oleh Rina Rivana tampak lengkap memaparkan bagaimana penderitaan seorang isteri yang disakiti sang suami: Beli disangka beli dinyana / Sampean bohongi kula / Selawase rumah tangga / Kula sering dilelara / Kaya beli ngenal dosa / Nganiaya badan kula Batin sun rasa kesiksa / Rusak jiwa lan raga / Bengen sun ngalami / Dikawin wong due rabi / Gawe lara ati / Ngangis beli mari-mari / Kien sun ketuwon / Bengen gugu omonge wong / Ampun aduh gusti / Keduhung tinemu guri (Tak disangka tak diduga / Anda membohongi saya / Saya sering disakiti / Seperti tak kenal dosa / Menganiaya badan saya / Batin saya terasa tersiksa / Rusak jiwa dan raga / Dulu saya mengalami / Dinikahi orang yang beristeri / Bikin sakit hati / Menangis tak henti-henti / Sekarang saya kecewa / Dulu tak menurut kata orang / Ampun aduh gusti / Kecewa ketemu di belakang)

Lagu Ketuwon menggambarkan penderitaan akibat poligami. Hampir semua pencipta lagu mengutuk poligami dan perselingkuhan dalam lirik lagunya. Poligami dalam beberapa lirik lagu tidak hanya mengakibatkan kekerasan psikis akan tetapi juga kekerasan seksual sebagaimana dalam lagu “Satria Arjuna”, ciptaan Tatim S: Priben perasaane wong digawa wayuan / Tentu blenak rasane lamun waktu giliran / Seminggu ping telu kula turu barengan / Yen waya giliran laka sing kanggo sasaran (Bagaimana perasaannya orang dipoligami / Tentu tidak enak rasanya saat dia (pergi) giliran / Seminggu tiga kali saya tidur bersama / Kalau waktu giliran tak ada yang untuk sasaran) Meski tradisi poligami dan perselingkuhan bukanlah barang langka untuk Cirebon dan Indramayu, akan tetapi dalam teks-teks lagu tarling isteri yang suaminya melakukan poligami umumnya mengutarakan penderitaan dan kekecewaannya. Seperti lagu ciptaan Masmo Cinta MateriSeumpamane jodoh bisa ngulati / Sun arep luru wong kang beli duwe rabi / Bli kudu wong sugih / Ora pandeng materi / Najan wong bli due / Sing penting eman lan sayang / Sing paling benci / Wong lanang doyan demenan / Arepan supir, arepan dalang tarling / Arep mama kuwu / Sing penting aja diwayu (Seumpama jodoh bisa dicari / Kucari orang yang tak beristeri / Tak harus orang kaya / Tak pandang harta / Walau orang tak punya / Yang penting sayang dan cinta / Yang paling benci / Lelaki yang suka pacaran / Mau supir, mau seniman tarling / Mau kepala desa / Yang penting jangan poligami)

Keputusasaan dan kepasrahan perempuan dalam berhubungan dengan laki-laki beberapa terdengar cukup mengejutkan dalam beberapa lagu: Kula sih wong wadon terserah pujare kono / Senejan uripe dadi rabi nomer loro / Bokat tekang nasibe kula nerima arep telu arep papat / Sing penting aja dipegat (Saya sih seorang wanita, terserah apa mau dikata / Meski hidup jadi istri kedua / Mungkin telah menjadi takdir saya terima / Mau punya istri tiga atau empat / Yang penting saya tidak dicerai (Satria Arjuna ciptaan Tatim S). Hal tersebut semakin menajam di  Ayam PutihKakang kula bosen / Urip miskin selawase / Kang gelem tah beli / Kawin karo rangda kaya / Nyi rangda akeh dunyane / Akeh pisan pekayane / Kula gelem diwayu / Padu asal seneng bae / Bli bakal cemburu / Cemburu berat / Cemburu akhire mlarat / Wong lanang kawin maning / Asal kula melu seneng (Mas, saya jenuh / Hidup miskin selamanya / Mas, mau tidak / Nikah dengan janda kaya / Nyai janda banyak hartanya / Banyak sekali kekayaannya / Saya mau dimadu / Yang penting senang saja / Tidak akan cemburu / Cemburu berat / Cemburu akhirnya melarat / Suami kawin lagi / Asal saya turut senang).

Membaca syair lagu-lagu tersebut seperti melihat sebuah dunia kecil Indramayu, pantulan-pantulan dari kenyataan yang sehari-hari mereka hadapi. “Kalau saya tidak bisa nyanyi mungkin saya sudah pergi kerja ke luar negeri seperti teman-teman saya di kampung,” aku Santi dengan jujur. Adi juga mengiyakan bahwa jika tak bisa menyanyi perempuan-perempuan di kampungnya akan pergi mencari kerja ke luar negeri. Mereka tidak mau kerja menjadi buruh tani di sawah. Menjadi penyanyi atau pergi kerja ke luar negeri nampaknya menjadi jalan bagi para perempuan di Indramayu untuk lepas dari jerat kemiskinan. Keadaan ini pun tak urung muncul pula lewat lagu Bandara Soekarno Hatta, Rangda Sementara dan Kiriman Entok[xxv].


[i] Yen wayah bengi ora bisa turu lali / Senajan durung mangan rasa ora ngeli / Kebayang-bayang katon ning mata / Kakang kula cinta

Mengkenen temen rasane wong lagi demen / Sedina-dina ati kula rasa kangen / Pengen ketemu pengen loroan / Pengen terus bebarengan

Ning pribasane wedang kopi wedang jae / Rasane ati wong demen kelingan bae / Ora bedane pring tutus digawe lali / Lamaran putus cinta bisa bunuh diri

Kakang duh kelingan / Kakang kula kedanan

(Kelingan Bae)

[ii] Tetes banyumata sing teles nyirami pipi / Rasa bli tega isun arep ninggal kari / Tapi kepeksa isun kudu ngomong apa / Antara kita memang jauh berbeda

Isun bli tahan ing fitnahan lan hasutan / Tertekan batin hubungan ora sebanding / Siksa ning badan hubungan bli rasakena / Cerita cinta terpaksa putus di tengah jalan

Wis cukup sampe tekang ning kene / Kabeh ceritane / Luruh ganti sejene / Sing cukup segalane

Cerita cinta kita wong loro / Anggepen impian selamat tinggal sayang / Terpaksa kita pisahan

(Tetes Banyumata)

[iii] Aduh pusing kang duh aduh pusing / Pusing tujuh keliling / Rumah tangga langka senenge / Sampeane mabok bae

Coba mikir kang dipikir dingin / Apa kakang bli isin / Wong mekarya langka luwihe / Saben dina mabok bae

Kudu inget ning masa depan / Aja nuruti napsu setan / Inum-inuman mabok-mabokan / Ngrusak ning badan

Masih mending mabuk dunya / Bisa nyukupi keluarga / Aja maboke mabuk minuman / Bisa berantakan

(Mabok Bae)

[iv] Mengkenen rasane wong demen sinden / Rasa suwung yen bengi ditinggal manggung / Tapi nyadari lan saling memaklumi / Bengi nyanyi nyumpani kewajiban seni

Dina minggu terkadang hatine rindu / Pengen ketemu seringe ditinggal turu / Tapi pada nrima terkadang kecewa / Mung sadelat ketemu bareng gemuyu

Wayah awan terkadang rasa kelingan / Arep mangan banyangane neng iringan / Tapi janji seiket bareng nerima / Udar janji karena fitnah karena mati

(Mabok Sinden)

[v] Duh emak duh bapa / Sing welas ning kula / Lamun bener welas / Tulung turutana

Ora jaluk motor kang banter playune / Ora jaluk mobil kang enak tumpakane / Jaluke kula ora reka-reka / Mung sepele pada jaluk sarung bae

Pusing duh pusing pusing pikire / Sebab sabab bengi / Kula turu langka kemule

Bingung duh aduh bingung / Sebab kulawis pengen duwe sarung

Dudu sarung sing bagus warnane / Dudu sarung sing larang regane / Tapi sarung kang ana tangane

(Pengen Sarung)

[vi] Bli keberatan yen kakang / Seneng ning kula / Kula nerima / Kaberan kula wis rangda

Nanging jalukan duh kakang / Siji syarate / Pengen sing gedhe / Sing gedhe kasih sayange

Percuma ganteng percuma sugih / Lamun nyakiti / Sing tak pengeni / Asal sing gedhe tanggung jawabe

Wong rumah tangga / Senenge dudu ning harta benda / Kesetiaan suka nerima saling percaya

(Pengen Sing Gedhe)

[vii] Kang kaberan aduh kaberan / Kula masih angetan / Olih sewulan luwih sedina / Kang kula nembe pisahan

Apa sih bener sampeyan seneng / Lan naksir ning diri kula / Lamun bener sing penting sayang / Wis pasti kula terima / Wis pasti kula nerima

Bli perlu jaka legan wis duda / Sing penting eman / Kita wong lara saling percaya / Saling pengertian

Yen bener kula sampeyan nerima / Kula wis rangda / Tapi jalukan sing penting eman / Bli gawe lara

(Rangda Angetan)

[viii] Rasa seneng lan bungah ora kejagan / Senajana urip lagi rangdaan / Durung lawas kula pisahan / Dadi rangdanembe olih sewulan

Bli mikiri ning soal harta lan benda / Kader urip cukup bahagia / Arep luruh laki perjaka / Kader kula iki wong rangda kaya

Bagen rangda ora dadi pikiran / Daripada masih karo sampean / Kula emong sering digawe lara / Arep luru sing eman lang sing setia

(Rangda Kaya)

[ix] Ana anda cilik tugel / Es lilin langka bungkuse / Ana rangda cilik prigel / Dikawin langka ongkose

Ana anda dawa dawa / Mangan gedang buang kulit / Duh sayang bli duwe duit

Awan-awan iketan blangkon / Blangkon ireng pakaian sunda / Lagi prawan ora kelakon / Kelakon bareng wis rangda

Simbar pati simbar wulan / Simbar lima kari siji / Jodo pati kersa pangeran / Manungsa derma nglakoni

[x] Kakang sayang aja watir aja bimbang / Ning sampean wis pasti sayang / Senajan kien adoh ana ning negri sebrang

Rong taun kang dadi rangda sementara / Mangkat kerja ning Arabia / Sampean dadi duda / Kula rangda sementara

Ning umah kakang sing tabah / Dedonga supa bli kena goda / Sing nrima ing kenyataan / Sun mangkat kerja kang demi sampean

(Rangda Sementara)

[xi] Percuma duwe laki / Slalu digawe lara / Alias ditambang dawa

Bener jare omongane tangga / Kula wis dadi rangda / Percuma kula rangda / Dadi rangda sengketa

Lunga teka wong lanang / Kakang sabara bae / Nunggu putusane Wa Lebe

Kula bisa hubungan / Ora bisa go temenan / Akibat due laki / Langka tanggung jawabe

Manis omongane / Kaya gula bae / Pahit ning akhire

(Rangda Sengketa)

[xii] Wong demen kelingan bae / Sayang wis ana sing duwe / Rasa pegel ngentenane / Tak tunggu kapan rangdane

Sumpah mati demi tuhan / Cintae bli bakal ilang / Kakang pegel ngentenane / Kapan nok rangdane

Nang apa ati bli demen wong sejen / Cintane suci bli bisa klalen / Nok wong ayu kakang sabar ngenteni / Senajana sira wis duwe laki

(Nunggu Rangdane)

[xiii] Kuwayang yen bli kelakon / Turun tangis batin sun ketuwon / Inget bae ning emane / Inget bae kasih sayange

Duh sayang wis duwe rabi / Tapi priben sun bli bisa lali / Kaya-kaya bagen mati / Yen kula bli dadi sawiji

Sumpah ning batin / Yen kula bli dadi kawin / Tekade ngati ora bakal luruh ganti

Sumpah wis janji / Arep sehidup semati / Seneng lan sedih bareng-bareng dilakoni

Jambu alas manis rasane / Bagen lawas sun arep nunggu dudane

(Nunggu Dudane)

[xiv] Jare ana duda duda anyaran / Penasaran pengen pengen kenalan / Kula gadis umur pitulasan / Pengen duwe laki sing wis pengalaman

Kula pernah jatuh jatuh cinta / Ning perjaka umur bli beda pira / Nonton film bayare patungan / Sun bli kuat sebab gede cemburuan

Jare ana duda duda anyaran

Kelapa ijo kelapa puan / Kelapa muda pinggir dalan / Luruh jodo pancen kangelan / Bagen duda tambah lumayan/ Eh tambah lumayan

[xv] Yang apa masih kelingan / Ning bendungan bolang / Nyawang pemandangan / Antara kita pandengan mata / Wong loro saling merajut cinta

Yang bening banyu bendungan / Sebening cinta kita loroan / Tresna kasih sayang akeh godaan / Tek anggep iku cuma halangan

Senajana hubungan kita / Dihalangi ning wong tua / Terlanjur kepalang basah / Kula ora bakal nyerah

Demi cinta ning sampean / Lunga mendi tek tiburi / Tenimbang bli dadi siji / Sungkan urip bagen mati

(Bendungan Bolang)

[xvi] Ning lamunan masih sok kelingan / Kelingan lagi waktu perpisahan / Neng bendungan karet rambatan kulon / Kita wong loro nangis bareng ketuwon

Nangisi nasib sing lagi dilakoni / Hubungan cinta sing ora direstui / Masalah harta sing dadi persoalan / Kita wong loro akhire pisahan

Duh mengkenen temen rasane / Wong lagi kapegat tresnane / Kaya bli ngalami dewe wae / Wis percuma urip langka artine

Kenangan pahit masih ngganjel ning dada / Hubungan cinta ora kelaksana / Mung sayange ora dadi siji

(Bendungan Karet)

[xvii] Kesawang neng mata ana prapatan / Kang minangka dadi perbatasan / Desa Celeng Lohbener arane / Tinggalan neng jaman bengene

Desa Celeng cawang-cawang dalane / Rame pisah neng stanplate / Gawe subur neng para pedagang / Sore Jumat iku pasarane

Mung saiki sampean pada ngerti / Ana dalan ngetan marani kali / Kegawa mrana kegawa mrene ora apa / Sing penting laksana cita-cita

(Stanplat Celeng)

[xviii] Ning Pertelon Widasari / Sing dadi kenangan / Waktu sun ditinggal kari / Ning kekasih pujaan / Dah sayang selamat jalan

Waktune arep pisahan / Rasane blenak pisan / Sampai bany mata / Netes ora ketahan / Dah sayang selamat jalan

Oh kakang kula tetep sayang / Senajan lawas pisahan / Oh kakang kula tetep sayang / Senajan akeh rintangan

Nang apa cuma kakang siji / Sing dadi gandulaning ati / Kula bli arep luruh ganti / Kula sabar ngenteni

(Pertelon Widasari)

[xix] Duh aduh bingung kula mikir anane / Duwe rasa katresnan ning sawijine pemuda / Wonge ganteng pratenteng ramah lan sopan / Manis gumuyune gawe ati penasaran

Rasa deg-degan ati ora kejagan / Yen saban ketemu neng pretelon Jatibarang / Ati kula kepengen ngobrol loroan / Namun apa daya ra kaku bli karuan

Ora disangka luma samobil loroan / Duduk loroan karo ngobrol sadalan-dalan / Antarane Jatibarang Wetan  / Sing minangka dadi saksi wong loroan

Pertelon Jatibarang sing gawe kula kenangan

[xx] Oh sayang pujaan ning jiwa / Najan sampean adoh ing tanah sebrang / Kasing lan sayang ora bakal ilang / Oh kasih pujaan ning ati / sampai kapan kula setia ngenteni / Sumpah suci sing pernah diucap / Ora bakal lanca linci ingkar janji

Waktu pisahan bli sadar nangis rangkulan / Ning landasan Bandara Soekarno hatta / Sampean ngomong dada / Banyu mata tumiba ora krasa

Kapan waktune balik ning tanah Jawa / Setahun lawase kula nerima surate / Tapi apa daya nerima ning kenyataan / Sing ning negri sebrang uwis kawinan

Bandara Soekarno Hatta cuma dadi saksi kehancuran cinta / Tanggal pat belas Robiul Akhir / Cinta suci ning bandara berakhir

(Bandara Soekarno Hatta)

[xxi] Bli keberatan yen kakang / Seneng ning kula / Kula nerima / Kaberan kula wis rangda /

Nanging jalukan duh kakang / Siji syarate / Pengen sing gedhe / Sing gedhe kasih sayange

Percuma ganteng percuma sugih / Lamun nyakiti / Sing tak pengeni / Asal sing gedhe tanggung jawabe

Wong rumah tangga / Senenge dudu ning harta benda / Kesetiaan suka nerima saling percaya

(Pengen Sing Gedhe)

[xxii] Pikir-pikir Mas / Najan wong sugih dunya / Kula gelem kawin mas / Pengen jaluk sing dawa

Sing diluruh mas / Ganteng bagus atine / Pengen dawa jadane mas / Wong sing dawa pikire

Mas kula emang / Lawan wong lanang cendek pikire / Sing tak pengeni / Kudu sing sayang sampai mati

Ning perkarane / Susah lan seneng kudu bareng nrima / Kula bli jaluk emas permata uga harta benda / Sing diluruh mas pengen jaluk sing dawa

(Jaluk Sing Dawa)

[xxiii] Lamun bener kakang pengen wayuan / Asal adil ning waktu lan giliran / Arep relu arep diwayuh papat / Mung syarate asal kakang sing kuat

Aja watir kula akeh jalukan / Ora pengen emas karo berlian / Kula nerima bagen digawa mlarat / Mung syarate asal kakang sing kuat

Asal kuat duh kakang luruh duite / Asal kuat duh kakang luruh pangane / Asal kuat duh kakang ning gilirane / Asal kuat ning segala-galane

( Asal Sing Kuat)

[xxiv] Ning sore wit tembara / Kita wong loro memadu cinta / Saling janji setia / Kisah cinta seia sekata

Janjine tanggal telu / Arep ngadep ning penghulu / Sampe liwat tanggale / Tapi durung ana lamarane

Janji-janji tinggal janji / Ora pernah ditepati / Dasar wong lanang tukmis / Rayuan manis serba romantis

Rasa isin tangga batur / Ning wong tua lan sedulur / Wis lawas demenan / Durung bae kawinan

Isep-isep tebu kakang pinggir kali / Sakien wis layu ditinggal kari

(Isep-isep Tebu)

[xxv] Rong taun kiriman wis entok / Kanggo maen madon lan mabok / Mertua bli nyapa Sengit bli kira-kira / Sing luwih pusinge / Rabi arepan teka / Rong taun kiriman wis pragat / Rabine pasti njaluk pegat / Wadone usaha kerja ning Arabia / Yen oli kiriman pengene foya-foya

(Kiriman Entok)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: